Friday, August 29, 2008

"Drama Obama"


Oleh Budiarto Shambazy

Pekan depan berbagai survei akan membuktikan duet ”Obiden” (Barack Obama dan Joseph Biden) bisa memenangi pilpres Amerika Serikat. Itu pun masih bergantung pada siapa cawapres John McCain yang ditentukan akhir Agustus.

Sekitar sebulan terakhir popularitas Obama turun, McCain malah naik. Akhir pekan lalu, sebuah survei membuktikan, mereka sama-sama kuat dipilih 47 persen responden.

Obama tanpa Biden mulai menimbulkan keraguan karena baru hebat sebatas pidato. Walau tampil sebagai tokoh harapan, ia beberapa kali terjebak arus politik Washington yang mapan.

Misalnya, ia mendukung kebijakan Presiden George Walker Bush menyadap pembicaraan telepon warga. Obama mulai mencla-mencle dalam soal penarikan pasukan dari Irak: mau langsung atau bertahap?

Obama menawarkan perubahan, tetapi kurang merinci perubahan yang ia maksud pada tingkat kebijakan yang konkret. Pesta ”Obamamania” telah berakhir, pemilih mulai sinis terhadap ”Oba-me” alias Obama- sentris yang ”I story”. Lebih penting lagi, muncul pertanyaan pokok, ”Can you lead us?” Sebab, AS bukan negara biasa karena satu-satunya adidaya yang menentukan hajat hidup dunia.

Namun, Obama bukanlah Presiden George W Bush, Bill Clinton, George HW Bush, Ronald Reagan, Jimmy Carter, Gerald Ford, Richard Nixon, atau Lyndon Johnson. Ia setara dengan Presiden John F Kennedy: pemimpin berbakat.

Pemimpin berbakat ”terlahir sebagai pemimpin”. Mereka tak lahir tiap hari dan sering kali pergi meninggalkan arena lebih cepat daripada orang biasa.

Misalnya, di lapangan hijau ada Diego Armando Maradona, dalam politik kita ada Soekarno, di dunia musik Barat ada John Winston Lennon, dan di tingkat global ada pula Nelson Mandela.

Tiap orang boleh mengaku belajar kepemimpinan, merasa mampu jadi gembala, atau busung dada punya pengikut setia. Mereka bukanlah ”pemimpin”, tetapi hanya ”pemimpi”.

Tak satu pun bintang yang akan mampu mengulang gocekan Maradona menipu pemain-pemain Inggris di Piala Dunia 1986 di Meksiko. Kualitas Pele, Franz Beckenbauer, Michel Platini, atau Ronaldo tak seujung kelingking Maradona.

Di negeri ini sudah terlalu banyak ”Soekarno jadi-jadian”. Mereka sudah mati-matian mau kayak Bung Karno, tetapi apa daya enggak pernah jadi.

Mana ada pula musisi yang mampu meledakkan ”Beatlemania” yang diotaki Lennon? Hanya dalam hitungan jam lahirlah magnum opus bernama Imagine, yang membuat bulu kuduk bergidik begitu mendengarnya.

Dan, saya yakin tak satu pun manusia yang sanggup mempertahankan prinsip seperti Mandela. Ia dibui puluhan tahun oleh rezim apartheid di Afrika Selatan tanpa pernah kehilangan hati nurani, tekad perjuangan, akal sehat, dan... senyum dikulum.

Tentu saja Obama, Bung Karno, Maradona, dan Mandela berbeda. Namun, mereka memiliki keuntungan komparatif dibandingkan orang biasa: mereka lebih mudah membangun karisma.

Ia bukan barang setengah jadi, dijahit jadi politikus sejak usia 20 tahunan. Ia bukan lulusan perguruan tinggi sembarangan, melainkan dari Harvard dan orang hitam pertama yang memimpin redaksi majalah hukum universitas bergengsi itu.

Ia bukan senator tingkat state atau pusat, tetapi juga penulis ulung yang sekitar 15 tahun lalu melahirkan karya dramatis, Dreams from My Father. Ia bukan pewacana sejati, tetapi menuangkan renungan tentang bangsanya lewat The Audacity of Hope.

Di atas semua itu, ia berhasil membangun karisma selama bertahun-tahun. Ia berkeringat meniti buih perlahan-lahan, menaiki anak tangga satu per satu, dan mendaki bukit langkah demi langkah sampai ke puncak.

Di lain pihak, pemimpin berbakat juga punya kelemahan. Bung Karno hidup poligami, Lennon berlidah tajam, Maradona terjebak narkoba, dan Mandela bukan orator hebat.

Bagaimanapun, kelemahan pemimpin berbakat juga menjadi magnet punya daya tarik luar biasa besar. Obama sempat dijuluki ”Obambi” karena seperti Bambi, anak rusa tak berdosa dalam buku A Life in the Woods karya Felix Salten.

Keluguan politik Obambi salah satu faktor yang memukau pemilih. Keluguan itu yang menyadarkan bangsa AS bahwa momentum kebangkitan politik harapan dan perubahan amat terlalu sayang untuk tak segera dimanfaatkan.

McCain tak lebih dari kepanjangan tangan rezim Presiden Bush. Ciri kepemimpinan Presiden Bush tak lebih dari politik smear and fear yang menakut-nakuti semua orang di Bumi ini, termasuk rakyatnya sendiri.

Entah sudah berapa pemimpin dan negeri asing yang anti-AS, yang dituding evil (jahat) yang mesti dijauhi. Lama-kelamaan rakyat AS pun, yang akhirnya saling curiga, bertanya sendiri, ”Sebenarnya yang evil itu siapa sih?”

Sebelum ”Drama Obama” berlangsung, rakyat AS tak menaruh perhatian lagi pada politik. Mereka dikelabui habis-habisan oleh Presiden Bush lewat dongeng senjata pemusnah massal Irak.

Kini keadaan berbalik 180 derajat. Perhatian dunia terfokus pada saat Konvensi Partai Demokrat di Denver sampai hari-H, 4 November 2008.

Tak ada yang khawatir McCain bisa mengalahkan Obama yang diperkuat Biden, sang politikus kawakan. Saya hanya khawatir kita di sini tak belajar dari ”Drama Obama”.

Dalam politik kadang berlaku kiasan, ”We are too dumb to be govern”. Ya, Anda tahulah apa maksudnya.

Michelle Obama: Saya Lebih Suka sebagai "The Mom in Chief"



Tidak hanya ribuan peserta Konvensi Partai Demokrat di Denver, Colorado, yang terharu mendengar pidato Michelle Obama hari Senin lalu. Senator Hillary Clinton, Selasa (26/8), pun spontan mengakui Michelle sebagai bakal first lady yang hebat.

”Bukankah Michelle semalam luar biasa?” tanya Hillary saat berpidato di depan 2.500 perempuan di sebuah hotel di Denver. ”Saya sedikit paham soal tugas di Gedung Putih. Saat Presiden tidak ada di sana, maka telepon ditujukan kepada First Lady. Dengan Michelle Obama, maka kita berbicara dengan seseorang yang bisa menjawab,” ujar Hillary memuji Michelle.

Michelle, perempuan dengan tinggi 180 sentimeter, memang memesona. Dengan mengenakan baju pas di tubuh, jepitan rambut serasi, Michelle mengingatkan orang pada Jackie Kennedy, istri Presiden John F Kennedy.

Lahir sebagai Michelle LaVaughn Robinson, 17 Januari 1964 di Chicago, Michelle tumbuh dalam keluarga menengah bawah. Ayahnya, Frasier Robinson, adalah pegawai PAM di Chicago. Ibunya, Marian, bekerja sebagai sekretaris di toko katalog setelah anak-anaknya besar.

Michelle dan kakaknya, Craig, hidup dalam keluarga yang hangat. Sentuhan dan kecupan sayang orangtuanya begitu berkesan. Ayahnya sakit-sakitan dan meninggal dunia tahun 1991. Namun, ayahnya tak pernah bolos kerja.

Michelle kuliah di Princeton serta Harvard Law School (1988) dan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Untuk memperbaiki ekonomi keluarga, Michelle langsung bergabung di Kantor Hukum Sidley Austin di Chicago.

Mentor Obama

Di kantor hukum itu Michelle, yang adalah karyawan lebih senior, harus menjadi mentor karyawan baru bernama Barack Obama. Michelle, yang tegas dan prinsipiil, menolak ketika anak mentornya itu mengajak kencan. Michelle menolak karena tak etis berkencan dengan sesama karyawan.

”Saya harus bisa meluluhkan hatinya,” tulis Obama dalam bukunya, The Audacity of Hope. Michelle akhirnya mau menemani Obama saat piknik perusahaan. Mereka mengecap es krim dan saling curhat soal kehidupan keluarga.

Obama bahkan sampai belajar bermain basket bersama Graig, abang Michelle, untuk mengenal adiknya. Dia juga menolak pindah ke Washington DC agar bisa tetap dekat dengan Michelle.

Michelle akhirnya luluh. Obama membuatnya terkesan. Keduanya lantas nonton film Do the Right Thing. Obama dan Michelle menikah Oktober 1992. Lahirlah Malia Ann (1998) dan Natasha (Sasha, 2001).

Beberapa tahun kemudian Obama mulai berpolitik. Sebagai keluarga muda, dengan ekonomi yang belum mapan, Michelle harus bekerja keras. ”Hidup yang keras. Itu yang menjadikan Obama seorang pria yang tahu bersyukur,” ujar Michelle.

Awalnya, Michelle menolak Obama ikut dalam pemilihan presiden. Dia kemudian mau mendukungnya, antara lain, setelah Obama memenuhi permintaannya berhenti merokok. Namun, hal yang terpenting, setelah Obama berjanji tetap memerhatikan keluarga, terutama kedua putri mereka.

Jangan heran jika Obama rajin menelepon ke rumah, menyapa anak-anaknya. Michelle hanya sehari meninggalkan rumah. Ia ikut kampanye dua hari sepekan, hari lainnya harus menemani putri-putrinya di rumah.

”Apakah Anda penasihat politik Obama?” tanya wartawan. ”Saya lebih suka menjadi ’Mom in Chief’ ujar Michelle. Ibu yang sesungguhnya. (AFP/ppg)

Hillary: Pilihlah Obama


Denver, Selasa - Senator Hillary Rodham Clinton, lawan Barack Obama pada pemilu pendahuluan yang lalu, meminta semua pihak mendukung dan memilih Obama dalam pemilihan presiden 4 November. Dia juga menyampaikan pesan kepada pendukungnya bahwa pemilihan itu bukan tentang dirinya, tetapi Obama.

Pada awal pidatonya di Konvensi Partai Demokrat di Denver, Selasa (26/8), Hillary mengatakan dia adalah pendukung Obama. ”Ini saatnya bersatu untuk mencapai satu tujuan. Kita berada dalam tim yang sama,” ujar Hillary.

”Barack Obama adalah kandidat saya. Dan dia harus menjadi presiden selanjutnya,” kata Hillary yang tampil dengan baju berwarna oranye.

Hillary juga mengajak peserta konvensi untuk mengingat Angkatan Laut AS yang sedang berjuang untuk negara, para janda, keluarga yang pusing karena penghasilan pas-pasan, serta warga AS lainnya yang sedang mengalami kesulitan hidup.

Hillary mendapat pujian dari Obama yang menonton pidatonya dari Billings, Montana. Obama masih terus berkampanye dari negara bagian yang satu ke negara bagian lainnya untuk mendapat dukungan.

Aula konvensi diwarnai dengan pernak-pernik dukungan terhadap Hillary. Pernyataan Hillary menjadi penting karena ada isu perpecahan di Demokrat. Pada konvensi itu, beberapa delegasi membawa spanduk yang isinya masih mempromosikan Hillary sebagai presiden.

Hillary pun mengenang masa- masa kampanye pada pemilu pendahuluan. ”Anda membuat saya tertawa dan... Anda bahkan membuat saya menangis. Anda mengizinkan saya menjadi bagian dari hidup Anda dan Anda menjadi bagian dari hidup saya,” kata Hillary, yang pada pemilu pendahuluan beberapa kali menyerang Obama sebagai orang yang tidak berpengalaman dan menuduh Obama melakukan kampanye negatif. Akan tetapi, media dan warga AS justru menilai Hillary terlalu banyak menyerang Obama pada pemilu pendahuluan.

Obama memuji Hillary dengan mengatakan bahwa tindakan Hillary itu mempersatukan Demokrat.

McCain dicemooh

Hillary juga menjadikan kesempatan itu untuk mencemooh John McCain, calon presiden dari Partai Republik. Menurut Hillary, McCain adalah kembaran dari Presiden AS George Bush, dengan warisan kekacauan ekonomi, perang yang tak habis-habisnya, diplomasi internasional yang buruk, serta pelayanan kesehatan yang tak menjangkau banyak orang. ”No way, no how, no McCain,” kata Hillary.

Hillary mengatakan negara tidak bisa lagi menanggung warisan buruk itu di bawah McCain.

Hillary juga memberikan pernyataan simpati soal Michelle Obama, istri Barack Obama, sebagai wanita yang menyenangkan dan akan menjadi ibu negara yang besar.

Pada Rabu malam waktu Denver, suami Hillary, Bill Clinton, juga memberikan pidato yang menyerang McCain dan era pemerintahan Bush yang buruk.(AP/AFP/joe)

Pidato-pidato Pembangkit Harapan


Oleh Budiarto Shambazy

Tiap wartawan akan bingung memilih topik yang layak jadi berita utama Konvensi Demokrat di Denver, Rabu (27/8) malam. Sebab, pidato mantan Presiden Bill Clinton, John Kerry, calon wakil presiden Joe Biden, dan calon presiden Barack Obama berkelas breaking news yang eksklusif. Bahwa pidato itu disiarkan langsung CNN tanpa dipotong, itu menunjukkan konvensi ini lebih penting ketimbang final ”American Idol” atau anugerah Oscar.

Sedikitnya dua peserta konvensi berurai air mata saat diwawancarai seusai konvensi karena memiliki secercah harapan tentang masa depan bangsa Amerika Serikat yang dihancurkan Presiden George W Bush. Itu belum termasuk minimal lima wajah yang sesenggukan karena bangga punya para pemimpin yang menempatkan rakyat di atas segala-galanya.

Bill Clinton bolak-balik memohon audiens stop tepuk tangan dan duduk. Hampir 5 menit mereka memberikan standing ovation untuk Clinton yang mencetak rekor ekspansi ekonomi terbesar yang memakmurkan rakyat dalam sejarah kepresidenan.

Clinton bukan hanya menegaskan dukungan untuk Obama, tetapi juga memberikan jaminan, istrinya, Hillary, punya 18 juta suara yang siap dialihkan untuk duet ”Obiden”. Dengan nada setengah mengancam, Clinton meminta warga Demokrat kompak menghadapi John McCain.

Kerry, pahlawan perang yang dikalahkan Bush di Pilpres 2004, menguak sikap McCain—sahabatnya selama 22 tahun—yang mendua. Itu sebabnya, Kerry batal memilih McCain sebagai cawapresnya tahun 2004, dan menjatuhkan pilihan pada John Edwards.

Biden jadi bintang karena menyampaikan acceptance speech sebagai cawapres. Ia berpolitik sejak usia 29 tahun dan berpengalaman politik internasional. Lebih dari itu, Biden yang doyan bicara berfungsi jadi attack dog jika Obama, politisi yang terlalu bertata krama, diserang kubu Republik.

Pidato politik, apalagi yang disampaikan saat konvensi, bukan wacana. Clinton, Kerry, Biden, dan Obama memang memanfaatkan TelePrompTer untuk membaca teks. Tetapi, mereka bukan ”pidatowan” yang cuma bermodal tampang, dandanan, atau kursus John Robert Power.

Tiap anak di AS sejak TK dibiasakan berdebat. Politisi terlatih mengabdi sejak dini. Biden menyebut bagaimana Obama mengorbankan masa muda jadi community organizer demi politik, bukan cari uang di Wall Street agar cepat kaya.

Tim kampanye Obama mengungkapkan ia tak pernah berlatih pidato secara khusus. Ketika memulai karier sebagai senator di Illinois, ia tak bicara banyak. Ia dinilai agak kaku kalau berbicara saat jumpa pers atau ikut debat publik. Ia merasa lebih nyaman berkomunikasi secara personal dengan setiap orang satu per satu.

Itu sebabnya, ia mencintai pekerjaan community organizer di Chicago Selatan. Ia rajin menyambangi anak miskin, mengurusi selokan mampat, mendemo wali kota, mengurus buruh yang pabriknya ditutup, atau mendidik remaja agar suka politik.

Obama tahu momen yang menentukan akan tiba: jadi keynote speaker pada konvensi partai tahun 2004. Bayangkan, empat tahun sebelumnya pada acara yang sama ia bahkan dilarang masuk gara-gara kartu identitas!

Di konvensi 27 Juli 2004 itulah Obama membacakan pidato ”The Audacity of Hope”. Tanpa latihan, Obama memukau audiens cuma karena satu hal: pengalaman politik.

Pidato Clinton, Kerry, dan Obama membuat kubu Republik panik. Mereka mencuri perhatian dengan ”membocorkan” berita McCain telah menentukan cawapres meski belum tahu siapa. Semoga kepanikan Republik jadi pertanda bagi kemenangan mutlak Obiden, yang akan kembali memanusiawikan wajah AS.

Kamis malam atau Jumat WIB, Obama menyampaikan acceptance speech di stadion berkapasitas 75.000 penonton. Terakhir kali konvensi pindah karena minat penonton kelewat besar terjadi saat John F Kennedy menyampaikan pidato konvensi pada awal 1960-an.

Kebetulan 28 Agustus 1963 Martin Luther King menyampaikan pidato ”I Have a Dream” yang jadi tonggak perjuangan persamaan hak. Pasti breaking news lagi dan makin banyak yang menangis terharu karena Obama telah membangkitkan harapan. (CNN/AP)

Thursday, August 21, 2008

Hua Guofeng, Sang "Pemimpin Bijak" yang Menenangkan Mao Zedong


Kamis, 21 Agustus 2008 | 00:47 WIB 

Pemimpin China Mao Zedong saat menjelang ajal masih sempat berkomentar, ”Dengan kamu yang menjabat, hati saya tenang.” Ucapan Mao pada September 1976 itu saat dia mengalihkan kepemimpinan Partai Komunis China kepada Hua Guofeng. Mao meninggal sebulan kemudian.

Hua yang pernah dijuluki oleh media resmi China sebagai ”Pemimpin Bijak” meninggal dunia di Beijing hari Rabu (20/8) pukul 12.50 waktu setempat. Kantor berita China, Xinhua, dalam keterangannya menyebutkan, Hua meninggal karena sakit yang sudah tak bisa diobati pada usia 87 tahun.

Pemimpin Mao tenang karena Hua dikenal loyal kepada partai. Ia lahir di Jiaocheng, Provinsi Shanxi, dengan nama Su Zhu. Seperti banyak pemimpin China saat itu yang mengganti nama yang lebih revolusioner, maka jadilah nama Hua Guofeng.

Tahun 1938, Hua bergabung dengan Partai Komunis China dalam aksi melawan Jepang. Ini setelah dia ikut dalam long march yang dipimpin Mao pada tahun 1936. Tahun 1949, Hua bersama Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pindah ke Hunan, di mana dia menjadi pejabat lokal sampai tahun 1971.

Mao mulai kepincut kepada Hua saat menjadi pemimpin partai Distrik Xiang-tan, termasuk kota asal Mao, Shaoshan. Di sana dia membangun sebuah aula peringatan yang dipersembahkan bagi Mao. Saat Mao ke sana Juni 1959, dia terkesan berat dengan apa yang dibuat Hua.

Bintang Hua pun benderang. Dia mulai ikut dalam konferensi partai. Setelah menjabat pemimpin partai Provinsi Hunan, dia terpilih sebagai anggota penuh Komite Sentral IX pada tahun 1969. Hua dipastikan sebagai pengganti Mao setelah Lin Biao yang menjadi putra mahkota tewas dalam kecelakaan pesawat tahun 1971.

”Dia seorang figur transisi penting pada akhir Revolusi Kebudayaan. Dia adalah orang yang melakukan kudeta atas apa yang dikenal dengan Kelompok Empat,” ujar Steve Tsang, mahasiswa Studi China Modern di Kolese St Antony, Oxford.

Hua menyetujui adanya komplotan militer untuk menahan janda Mao, Jiang Qing, dan anggota Kelompok Empat yang bertanggung jawab atas ekses selama Revolusi Kebudayaan. ”Jika Hua tidak melakukan ini, maka situasi bisa kacau,” ujar Tsang.

Namun, posisi Hua sebagai pemimpin China tergeser oleh Deng Xiaoping tahun 1981, dengan program reformasi ekonominya. Hua yang sempat menjabat PM China menggantikan Zhou Enlai juga digantikan Zhao Ziyang tahun 1980. Hua mulai tergeser, apalagi dia dituding terlalu mengultuskan Mao.

Kebijakan reformasi kapitalis Deng membuat mereka yang memihak Mao mulai surut. Slogan Deng ”Bukan masalah apakah kucing itu hitam atau putih sepanjang bisa menangkap tikus” membuat banyak warga China bersedia menerima reformasi. Hua pun tergusur hingga meninggal dunia. (Reuters/AFP/PPG)

Rusia Akan Akui Ossetia Selatan

Kamis, 21 Agustus 2008 | 03:00 WIB 

Moskwa, Rabu - Anggota parlemen Rusia akan segera mengakui kemerdekaan dua provinsi separatis Georgia, Ossetia Selatan dan Abkhazia. Langkah itu semakin mempertajam ketegangan antara Rusia dan Barat menyusul belum adanya pergerakan besar penarikan pasukan Rusia dari wilayah Georgia.

Wakil Ketua Majelis Tinggi Parlemen Rusia Sergei Mironov, Rabu (20/8), mengatakan akan menggelar pertemuan darurat pekan depan untuk membahas permintaan Abkhazia dan Ossetia Selatan untuk mengakui keduanya sebagai negara merdeka.

”Dewan Federasi siap mengakui status kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia jika itu yang diinginkan rakyat republik ini,” kata Mironov, seperti dikutip kantor berita Interfax.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev telah menyatakan Rusia mendukung status apa pun yang dipilih rakyat kedua provinsi separatis Georgia itu. ”Sebagai penjamin keamanan di Kaukasus dan sekitarnya, Rusia akan membuat keputusan yang tegas untuk mendukung kehendak penduduk kedua wilayah Kaukasus itu,” ujar Medvedev.

Dalam percakapan melalui telepon dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Selasa, Medvedev menegaskan bahwa 500 tentara Rusia akan ditarik dari Georgia pada Jumat besok. Namun, otoritas Georgia menyatakan tidak ada tanda-tanda penarikan besar-besaran pasukan Rusia.

Barisan militer Rusia melintasi Georgia untuk kembali ke Rusia, Rabu, setelah Barat dan NATO meningkatkan tekanan agar Rusia mempercepat penarikan pasukan dari Georgia. Belasan truk militer menyeberang perbatasan di dekat terowongan Roki yang menghubungkan Rusia dan Georgia. Kendaraan lapis baja tidak terlihat dalam barisan itu.

Di Warsawa, Polandia, AS meresmikan kesepakatan sistem pertahanan rudal dengan Polandia, Rabu. Menlu AS Condoleezza Rice dan Menlu Polandia Radek Sikorski menandatangani kesepakatan untuk menempatkan basis pertahanan rudal di Polandia.

Langkah itu memicu kemarahan Rusia yang menilai sistem rudal itu diarahkan ke Rusia. Kesepakatan itu juga memicu ancaman dari Rusia bahwa Polandia menjadikan dirinya sendiri rentan terhadap serangan, termasuk serangan nuklir.

AS telah menyingkirkan pilihan menggunakan kekuatan militer untuk berhadapan dengan Rusia. Namun, analis mengatakan, Pentagon akan mencari cara lain untuk menyudutkan Rusia. ”Saya kira satu area di mana belanja militer AS mendapat keuntungan dari invasi Rusia ke Georgia adalah pertahanan strategis, yaitu pertahanan terhadap senjata nuklir,” kata Loren Thompson dari lembaga pemikiran Lexington Institute. Penangkalan rudal, bukan pertahanan rudal, masih menjadi strategi inti AS saat berhadapan dengan persenjataan nuklir Rusia. (ap/afp/reuters/fro)

 

 

Monday, July 14, 2008

Rusia Peringati Tsar Nicholas II


Selama 90 Tahun Pembunuhan
Keluarga Ningrat Itu Masih Kontroversial
Senin, 14 Juli 2008 | 00:38 WIB

Moskwa, Minggu - Umat Ortodoks dan kaum bangsawan pekan ini diperkirakan beramai-ramai mengenang tsar terakhir, Nicholas II, dan keluarganya, yang terbunuh 90 tahun lalu oleh agen-agen Bolshevik.

Sejak hari Minggu (13/7), kota Yekaterinburg di Pegunungan Ural menggemakan paduan suara, dentangan lonceng, dan doa. Umat akan mengenang pembunuhan dinasti yang telah berumur ratusan tahun itu.

Upacara akan berpuncak hari Kamis di tempat ketika pada 17 Juli 1918 agen-agen Bolshevik menembak mati Nicholas, istrinya, kelima anak mereka, tiga pelayan, dan seorang dokter.

”Kalau di masa lalu, dan terutama di masa Uni Soviet, orang menyatakan kebanggaan bahwa di sini, di Yekaterinburg, kita membunuh tsar itu, kini justru kebalikannya,” kata Uskup Agung Vikenty dari Yekaterinburg, bulan lalu, mencerminkan perubahan sikap dan peran gereja yang dihidupkan kembali. ”Orang menyadari itu adalah sebuah tragedi,” katanya pada surat kabar Yekaterinburgskaya Initsiativa.

Sebuah gereja di tempat ”rumah tujuan khusus”, demikian disebut oleh kaum Bolshevik, menjadi latar belakang untuk peringatan pekan ini. Bangunan aslinya telah dirobohkan tahun 1977 oleh ketua partai setempat, Boris Yeltsin, kemudian menjadi pemimpin pasca-Soviet pertama.

Setelah sebuah tuguran sepanjang malam, para peziarah akan berprosesi sepanjang 18 kilometer ke sebuah tambang yang tak digunakan, tempat jenazah mereka dibuang, sebelum kemudian diambil kembali, disirami dengan air asam, dan dikubur kembali di sebuah tempat lain untuk penyembunyian yang lebih efektif.

Peringatan akan lebih banyak berlangsung di kota Alapayevsk, 150 kilometer sebelah utara, pada hari ulang tahun pembunuhan. Akan hadir dalam peringatan itu seorang keturunan Dinasti Romanov, Grand Duchess Maria Vladimirovna, kini tinggal di Madrid dan mengklaim sebagai keturunan sah Nicholas.

Pekan lalu Grand Duchess itu mengajukan dua permohonan banding pengadilan. Ini adalah perjuangan yang telah berlangsung lama untuk mendapatkan pengakuan negara bahwa nenek moyangnya adalah korban-korban represi politik dan bukannya sebuah serangan acak.

Penolakan untuk ”merehabilitasi” keluarga Romanov menunjukkan ”adanya kekuatan politik yang ingin mempertahankan unsur-unsur rezim Komunis”, kata seorang pembantu Maria Vladimirovna, Alekander Zakatov. Penyesalan oleh pemimpin-pemimpin pasca-Soviet, seperti Yeltsin, tidaklah cukup.

Persatuan keluarga Romanov mengatakan akan memperingati ulang tahun itu di Saint Petersburg (dulu Leningrad).

Pilihan itu mencerminkan pendapat yang berbeda mengenai pemakaman kembali 10 tahun di Saint Petersburg atas sisa tulang belulang yang digali tahun 1991 dan diperkirakan merupakan sisa tulang belulang Nicholas, anggota keluarganya, pelayan, dan dokter keluarga itu.

Uji DNA mengonfirmasikan keaslian tulang belulang itu. Namun, Gereja Ortodoks maupun Maria Vladimirovna menolak untuk menerima bukti itu. Ada keraguan mengenai yang mana dari kelima anak itu yang digali dan apakah salah satunya, Anastasia, masih hidup?

Kelima anak Nicholas II yang dibunuh bersama orangtua mereka di ruang bawah tanah di Yekaterinburg setelah Revolusi Rusia itu adalah Alexei, Anastasia, Maria, Olga, dan Tatiana.

Pada April lalu diberitakan, uji ilmiah telah mengonfirmasikan bahwa tulang-tulang yang ditemukan tahun lalu di Rusia adalah milik dua anak Tsar Nicholas II. Para pejabat Rusia kini mengatakan semua keraguan telah dihapus setelah ditemukannya tulang belulang dan hasil uji DNA.

”Dengan banyaknya pendeta Ortodoks yang ingin mengembalikan monarki, isu keluarga Romanov tetap merupakan hal yang sangat peka, seperti juga halnya peran Gereja,” kata ahli agama Sergei Filatov dari Russian Academy of Sciences.

Dengan berkembangnya sebuah ”sekte” virtual mengenai Nicholas di Yekaterinburg, Filatov mengatakan, Gereja ”bersikap sangat hati-hati” sehingga gagasan monarki tidak dinyatakan secara terbuka. (AFP/DI)

Wednesday, July 2, 2008

Obama Bukan yang "Pertama"


Selasa, 1 Juli 2008 | 00:54 WIB

Senator Illinois, Barack Obama, dipastikan menjadi presiden AS berkulit hitam pertama jika menang dalam pemilu 4 November 2008 nanti. Tetapi sebenarnya, Obama ”bukan” presiden AS kulit hitam yang pertama.

Kalimat yang kedua ini berkaitan dengan banyak film layar lebar dan televisi keluaran Hollywood yang memperlihatkan seorang warga AS keturunan Afrika pernah menjadi presiden. Analis bahkan mengatakan, film-film ini akan membantu para pemilih AS memberikan suara bagi kehadiran seorang presiden AS kulit hitam di Gedung Putih.

Obama sejauh ini sudah mencatat rekor. Dia menjadi seorang warga kulit hitam pertama yang menjadi calon presiden dari sebuah partai besar, Partai Demokrat. Dan sejarah baru akan terukir begitu Obama bisa mengalahkan saingannya, John McCain, dari Partai Republik.

Dan Obama punya peluang menang. Dia selalu unggul dalam jajak pendapat terakhir. Dan film-film Hollywood itu bakal menjadi pendulum suksesnya Obama. John W Matviko, penulis The American President in Popular Culture, seperti dikutip AFP, merasa yakin popularitas mutlak Obama di kalangan pemilih muda merupakan bagian dari faktor film-film keluaran Hollywood itu.

Film layar lebar ataupun televisi soal presiden AS berkulit hitam sudah muncul sejak tahun 1933. Aktor Sammy Davis Jr, yang baru berusia tujuh tahun, kala itu sudah muncul dalam komedi Rufus Jones for President. Atau Aktor kawakan Morgan Freeman dalam film Deep Impact tahun 1998 sudah memperlihatkan seorang presiden AS kulit hitam berkantor di Ruangan Oval, Gedung Putih.

Kehadiran sosok presiden AS berkulit hitam di film dan televisi yang membuat para pemilih muda terbiasa bukan lagi suatu yang asing. Nuansa ini juga yang membuat mengapa Obama sangat mudah diterima oleh para pemilih muda. Intinya, Obama sebenarnya nantinya bukan seorang presiden AS berkulit hitam yang pertama.

”Salah satu fungsi dari budaya populer adalah memperkenalkan ide-ide sekalipun porsinya hanya sedikit melalui sarana yang secara tradisional sangat bisa diterima. Jadi, meskipun hanya sebentar, pada akhirnya bisa juga diterima,” ujar Matviko.

Dan Obama sangat beruntung karena selama ini film atau drama televisi selalu menampilkan seorang presiden AS kulit hitam yang positif. Akibatnya, para pemilih muda di AS punya kesan positif menyangkut kehadiran seorang presiden kulit hitam. Ini yang menjadi bagian dari popularitas Obama di kalangan penduduk atau pemilih usia muda.

”Jadi, pemikiran soal adanya presiden dari kalangan kulit hitam menjadi suatu yang biasa, bukan hanya sebuah isu,” ujar Matviko soal manfaat dari penyajian positif seorang presiden kulit hitam di film dan televisi. Kemenangan dan munculnya Obama jelas suatu yang pasti baik dan positif.

Mengubah arus utama

Penampilan presiden AS berkulit yang positif banyak membantu mengubah sikap utama (mainstream) di AS soal seorang tokoh kulit hitam. Film The Man tahun 1972 yang dibintangi James Earl Jones merupakan film layar lebar pertama yang menyajikan cerita seorang presiden AS berkulit hitam yang baik. Dan sejak itu, sejumlah film dan drama televisi juga menyajikan peran presiden kulit hitam yang sama.

Aktor Dennis Haysbert, yang tampil sebagai seorang presiden kulit hitam yang hebat dalam serial televisi 24 yang populer, yakin perannya ini sangat berpengaruh. Haysbert kepada surat kabar Los Angeles Times dalam sebuah wawancara baru-baru ini mengatakan, dia tidak ragu karakternya dalam film itu membantu mengubah sikap utama yang ada (mainstream).

”Terus terang dan jujur, peran yang saya lakukan dan cara bermain dan cara penulis mengisahkan ini telah membuka mata publik Amerika bahwa seorang presiden kulit hitam sangat hebat dan mungkin saja terjadi,” ujar Haysbert.

Karakter presiden AS yang diperankan Haysbert dalam 24 akhirnya terbunuh. Film ini memperlihatkan seorang presiden AS kulit hitam yang berani bersikap dan membuat keputusan tegas yang kadang bertentangan dengan sikap umum. Namun, keputusan ini tepat.

Todd Boyd, pakar film dan budaya Afrika-Amerika di Sekolah Seni Sinematika dari Universitas Southern California, skeptis dengan pengaruh film-film Hollywood pada hasil pemilu presiden 2008.

Sedangkan Robert Thompson, profesor budaya populer pada Syracuse University, mengatakan, boleh saja pengaruh film dan serial televisi pada popularitas Obama. Namun, Thompson yakin penampilan yang menawan dan popularitas Obama yang mengakar yang membuatnya menang.

”Morgan Freeman atau Dennis Haysbert memberikan kredit penting bagi Obama, tetapi jangan meremehkan karismanya,” ujar Thompson. (AFP/ppg)

Obama Hadapi Isu Patriotisme

McCain Akan ke Kolombia dan Meksiko

AP Photo/Jae C Hong / Kompas Images
Barack Obama, calon presiden AS dari Partai Demokrat, berdiri dengan latar belakang bendera AS saat berpidato di Truman Memorial Building di Independence, Missouri, AS, Senin (30/6).
Rabu, 2 Juli 2008 | 03:00 WIB

independence, selasa - Setelah isu rasisme, kini kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama, menghadapi isu patriotisme. Kubu rival Obama, Partai Republik, mempertanyakan patriotisme dan nilai inti Amerika menjelang perayaan Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli.

Menjawab pertanyaan itu, Obama mengatakan tidak seharusnya seorang kandidat menggunakan patriotisme sebagai ”pedang politis” dalam pemilu presiden. ”Pertanyaan tentang siapa yang patriotis dan siapa yang tidak patriotis sering meracuni debat politis dan memecah belah,” katanya, Selasa (1/7) WIB dalam kampanye di Independence, Missouri.

”Sepanjang hidup, saya selalu mencintai dan patuh kepada negara ini. Selama 16 bulan terakhir, baru kali ini patriotisme saya dipertanyakan,” ujar Obama.

”Tentu kita bisa sepakat bahwa tidak ada partai atau filsafat politik yang memiliki monopoli atas patriotisme. Perbedaan pendapat tidak akan membuat seseorang menjadi tidak patriotis,” katanya.

Obama dikritik karena tidak mengenakan pin bendera Amerika. Kritikus juga menyerang Obama, menyebutnya elitis dan tidak selaras dengan nilai dasar Amerika saat mengatakan dalam sebuah kampanye bahwa kelas pekerja menjadi sangat pahit sehingga harus berpaling kepada Tuhan dan senjata.

Obama menghadapi kontroversi baru saat pensiunan jenderal Wesley Clark, yang mendukung Obama, menyerang patriotisme kandidat Republik, John McCain. Dalam sebuah siaran di CBS, Minggu, Clark mengatakan, dia mengagumi jasa McCain selama Perang Vietnam, tetapi tidak serta-merta menjadikan McCain layak menjadi presiden.

”Saya kira, naik pesawat tempur dan tertembak jatuh bukanlah kualifikasi untuk menjadi presiden,” kata Clark. Clark membela pernyataannya itu dan mengatakan tidak mewakili kubu Obama.

Menanggapi hal itu, Obama mengatakan, patriotisme harus melibatkan kerelaan untuk berkorban. ”Bagi orang-orang seperti John McCain yang telah mengalami siksaan fisik saat berjuang bagi negara kita, pengorbanan itu tidak perlu dibuktikan lagi,” ujarnya.

Dalam kampanyenya, McCain mengusung statusnya sebagai veteran Perang Vietnam yang paling siap untuk menjaga keamanan AS. McCain menyebut pernyataan Clark tidak perlu.

”Saya bangga dengan catatan pelayanan saya. Saya punya banyak teman dan pemimpin yang bisa mengujinya,” ujar McCain.

Perdagangan bebas

Untuk menunjukkan pengalaman politik luar negeri yang lebih baik, McCain mengatakan akan mengunjungi Kolombia dan Meksiko pada pekan ini. Perdagangan bebas, obat-obatan terlarang, dan imigrasi akan menjadi agenda utamanya.

McCain dijadwalkan bertemu dengan Presiden Kolombia Alvaro Uribe, Selasa, dan sejumlah pejabat di Cartagena, Rabu. Hari Kamis, McCain dijadwalkan bertemu dengan Presiden Meksiko Felipe Calderon di Mexico City sebelum kembali ke Arizona untuk perayaan 4 Juli.

Berbicara di Pennsylvania, Senin, McCain mengatakan, dia memiliki tugas besar untuk menjelaskan dukungannya terhadap Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang dianggap merugikan lapangan pekerjaan di AS. ”Saya harus meyakinkan mereka bahwa konsekuensi proteksionisme dan isolasionisme bisa menghancurkan masa depan mereka,” katanya.

Obama menyatakan NAFTA harus dirundingkan ulang. Pakta itu dituding menjadi penyebab hilangnya lapangan pekerjaan rakyat AS karena ”diambil” Kanada dan Meksiko yang termasuk dalam NAFTA. (ap/afp/reuters/fro)


Friday, June 6, 2008

Politik AS

Cerita Bob Kennedy dan Obama

Getty Images/Virginia Guy / Kompas Images
Almarhum Robert Francis Kennedy (1925-1968) terlihat ketika berpidato saat kampanye pemilu presiden AS tahun 1968. Dia meninggal karena ditembak.
Jumat, 6 Juni 2008 | 03:00 WIB

Sebuah kebetulan, sukses Senator Barack Obama menjadi calon presiden dari Partai Demokrat 3 Juni bersamaan dengan sukses Robert F Kennedy pada 40 tahun lalu. Robert (Bob) Kennedy pada 5 Juni 1968 memenangi pemilihan pendahuluan di California, kemenangan yang kian memastikan dia akan tampil sebagai calon presiden dari Demokrat.

Bob yang baru berusia 42 tahun itu tampil penuh percaya diri, karismatik, dan bintang politik liberal. Tak banyak berbeda dengan penampilan Obama dengan gaya pidato karismatik, percaya diri selama kampanye calon presiden dari Demokrat.

Orang Amerika melihat Bob seakan melihatkan abangnya, John F Kennedy, yang tewas terbunuh di Texas lima tahun sebelumnya. Bob Kennedy dikenal sangat menentang Perang Vietnam, yang menurut dia, keterlibatan tentara AS sia-sia.

Gaya pidato yang memikat dan usia muda membuat Bob Kennedy menarik kaum muda. Nama klan Kennedy yang populer, pengalaman sebagai Jaksa Agung semasa Presiden John F Kennedy, dan hampir empat tahun sebagai Senator New York membuat Bob menjadi idola baru dunia politik AS.

Tetapi, langkah Bob Kennedy terhenti beberapa menit seusai menang di California. Saat di Hotel Ambassador guna berterima kasih kepada para pendukungnya, muncul Sirhan Sirhan dengan pistol dan melepaskan sejumlah tembakan ke arah Bob. Sebuah peluru menembus kepala membuat Bob tewas di rumah sakit keesokan harinya.

Sirhan, pria Palestina, menembak Bob Kennedy karena mendukung Israel. Sirhan kini menjalani hukuman seumur hidup di penjara California. Bob meninggalkan istrinya, Ethel, dengan 11 anak, termasuk yang masih ada di kandungan saat itu.

Kehadiran Obama dari Demokrat kini mengingatkan kepada para politisi muda klan Kennedy. Bulan Januari lalu, Senator Edward Kennedy dan Caroline Kennedy, yang juga putri Presiden John F Kennedy, mendukung Obama yang dinilai meneruskan semangat mereka.

Dalam pidato di depan kelompok Yahudi di Amerika (AIPAC), Obama juga menegaskan akan mendukung Israel dan memastikan Jerusalem sebagai ibu kota negara Yahudi itu. Dia juga mengecam program nuklir Iran yang harus dihentikannya.

Obama sukses sebagai calon presiden kulit hitam pertama AS dari Demokrat, kesuksesan sebagaimana John dan Bob Kennedy raih sebelumnya. Hanya saja, Bob Kennedy terhenti sebelum berlomba ke Gedung Putih. Padahal, para pengamat politik yakin Bob Kennedy akan sukses mengikuti jejak abangnya, John F Kennedy.

Para pendukung Partai Demokrat mengharapkan Obama sukses mengalahkan John McCain dari Republik. Seperti Bob Kennedy yang mengecam Perang Vietnam, Obama menolak perang di Irak. Keduanya juga pro-Israel yang masih terus berseteru dengan Palestina.

Tetapi, banyak harapan, cerita perjalanan politik Obama tidak berakhir seperti Bob Kennedy. Juga tidak seperti John F Kennedy. (Reuters/AFP/ppg)

Thursday, April 17, 2008

Pemilu AS

Demokrat Lebih Suka Obama ke Gedung Putih
Kamis, 17 April 2008 | 00:41 WIB

Washington, Rabu - Hasil jajak pendapat yang dikeluarkan Rabu (16/4) memperlihatkan para pendukung Demokrat lebih suka Senator Barack Obama berada di Gedung Putih dibandingkan Senator Hillary Clinton. Jumlah yang mendukung Obama dua kali lipat dibandingkan pendukung Hillary.

Jajak pendapat The Washington Post-ABC News memperlihatkan 62 persen mendukung Obama dibandingkan 31 persen mendukung Hillary. Pada jajak pendapat awal Februari, 47 persen mendukung Hillary dibandingkan 42 persen bagi Obama.

Jajak pendapat atas 1.197 responden antara 10 hingga 13 April itu juga mengungkapkan bahwa calon Presiden Partai Republik, John McCain, akan mengalahkan Hillary apabila keduanya berhadapan pada Pemilu Presiden AS pada 4 November. McCain akan menaklukkan Hillary 48 persen melawan 45 persen.

Jajak pendapat dengan margin kesalahan tiga persen ini sebaliknya memberikan kemenangan Obama atas McCain dengan perbandingan 49 lawan 44 persen saat pemilu 4 November. Sejauh ini, Obama dan Hillary masih bersaing untuk memenangi kursi calon presiden dari Partai Demokrat. Pemilihan pendahuluan di Pennsylvania pada 22 April menjadi salah penentu kunci persaingan mereka.

Namun, dalam jajak pendapat Reuters/Zogby yang disiarkan Rabu, McCain lebih unggul dibandingkan Obama maupun Hillary saat pemilu 4 November. Responden AS melihat kebijakan ekonomi McCain lebih baik dibandingkan dua bakal calon presiden Demokrat itu.

McCain unggul tiga poin apabila dia bertarung dengan Obama dan unggul lima poin atas Hillary. Jajak pendapat ini juga memberikan Obama keunggulan 51 persen lawan 38 persen bagi Hillary. Keunggulan Obama ini naik tiga poin dibandingkan jajak pendapat akhir Maret. (Reuters/AP/AFP/ppg)

Maois Minta Raja Mundur Elegan

Kerajaan Nepal Akan Berakhir dalam Satu Bulan

Prachanda
Kamis, 17 April 2008 | 00:46 WIB

Kathmandu, Rabu - Pemimpin senior Maois Nepal, Rabu (16/4), menyerukan agar Raja Gyanendra mundur dengan elegan sehingga semakin memuluskan jalan terbentuknya republik demokratik di negara itu. Riwayat Kerajaan Nepal pun diperkirakan akan berakhir dalam satu bulan mendatang.

”Hal terbaik bagi raja adalah mundur dengan elegan untuk membuka jalan bagi republik demokratik,” ujar Baburam Bhattarai, pemimpin tertinggi kedua Maois Nepal.

Dia menjelaskan, tidak ada niat untuk mengubah rencana awal, yaitu menggusur sistem kerajaan di Nepal. Hal itu berarti raja tak punya banyak pilihan selain mundur. ”Pada pertemuan pertama Majelis Konstituen, kami akan mendeklarasikan negara ini sebagai sebuah republik, kemudian kami akan memberikan pemberitahuan kepada raja untuk meninggalkan istananya,” papar Bhattarai.

Ketua tertinggi Maois, Prachanda, pada wawancara dengan kantor berita India, PTI, Selasa (15/4), mengatakan, sistem kerajaan yang telah berusia 240 tahun itu akan dihapuskan dalam satu bulan. Bahkan, Gyanendra pun tak akan ditempatkan sebagai raja dengan posisi simbolik semata.

Ia menambahkan, penghapusan sistem kerajaan hanyalah prosedur dan diakhirinya sistem kerajaan itu juga telah dimuat dalam konstitusi sementara.

Prachanda menegaskan, penghapusan sistem kerajaan itu sudah merupakan konsensus dari berbagai pihak di Nepal sehingga tak akan menimbulkan perlawanan atau pun masalah.

”Saya rasa tak akan ada penentangan karena semua partai telah mengambil posisi yang menentang adanya sistem kerajaan dan lebih memilih sistem republik.”

Meskipun partai-partai utama lainnya telah sepakat dengan Maois untuk menjatuhkan Raja Gyanendra yang tak populer, sejumlah politisi berpendapat, Nepal perlu mempertahankan adanya sistem kerajaan sebagai simbol netralitas negara yang diapit dua raksasa Asia, China dan India.

Pembunuhan di istana

Raja Gyanendra meraih takhta kerajaan setelah terjadinya pembunuhan di dalam istana tahun 2001. Pada peristiwa itu, raja sebelumnya, Birendra, dan sejumlah pengawal intinya ditembak mati dalam sebuah acara kumpul bersama oleh seorang pangeran yang tengah mabuk dan marah karena tak diizinkan menikahi perempuan yang dicintainya.

Citra kerajaan tenggelam pada tahun 2005 ketika Gyanendra membubarkan pemerintah dan mengambil alih penuh kekuasaan untuk memerangi Maois. Namun, upaya itu berakhir dengan dibuatnya kesepakatan damai.

Dari 208 kursi yang telah dialokasikan, menurut Komisi Pemilihan Umum Nepal, Maois meraih 114 kursi. Rival terdekat mereka, Partai Kongres Nepal, memenangi 32 kursi.

Berakhirnya sistem kerajaan di Nepal dikhawatirkan penasihat spiritual raja akan mengancam kelangsungan agama Hindu yang dianut 80 persen rakyat Nepal. ”Hanya ada seorang raja Hindu di dunia dan dia adalah simbol penting sebagai pelindung agama Hindu,” kata Madhab Bhattarai, pendeta Hindu yang dikenal sebagai Guru Agung.

Amerika Serikat yang memasukkan Maois Nepal dalam daftar organisasi teroris, dalam pernyataan yang disampaikan, Selasa waktu AS, menyambut baik terlaksananya pemilu Nepal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Sean McCormack, mengatakan, para pemilih Nepal bisa menggunakan hak pilihnya secara damai di sebagian besar distrik meski terjadi kekerasan sebelum pemungutan suara dan beberapa ketidakberesan pada hari pemungutan suara. (AP/AFP/PTI/OKI)

Nepal


Akhir Tragis Kerajaan Hindu Terakhir
Kamis, 17 April 2008 | 00:42 WIB

Keberadaan Kerajaan Nepal sebagai kerajaan Hindu terakhir di dunia tinggal menghitung hari.

Partai politik di negara yang terletak di kaki pegunungan Himalaya itu telah sepakat menggantikan sistem kerajaan dengan sistem politik lain. Akan tetapi, yang lebih tragis, pemenang pemilihan umum Nepal adalah kelompok Maois yang sejak tahun 1996 angkat senjata untuk meruntuhkan Kerajaan Nepal, yang telah berusia 240 tahun.

Kerajaan Nepal dibangun oleh Prithvi Narayan Shah (tahun 1743-1775), seorang Raja Gorkha dari Dinasti Shah, dengan menyatukan tiga kerajaan yang berada di lembah Kathmandu. Melalui sejumlah pertempuran dan perundingan, pada tahun 1769 Prithvi Narayan bisa menguasai lembah Kathmandu dan mendirikan Kerajaan Nepal.

Jauh sebelum itu, wilayah Nepal sekarang ini berpindah-pindah di bawah kekuasaan beberapa kerajaan yang memperebutkannya, khususnya kerajaan di sekitar India saat ini.

Dinasti Shah berakhir tahun 1846 dengan peristiwa Pembantaian Kot. Peristiwa itu berawal dari bocornya rencana ratu untuk menggulingkan pemimpin militer yang kariernya menanjak pesat, Jung Bahadur Rana. Jung Bahadur Rana bersama bawahannya menyerbu istana dan membunuh ratu serta keluarga kerajaan lainnya. Nepal pun kemudian mengenal dinasti baru, Dinasti Rana. Raja inilah yang berjuang membantu Inggris tetap berkuasa di India. Dia kemudian mendapat imbalan diakuinya kemerdekaan Nepal oleh Inggris tahun 1923.

Gerakan prodemokrasi

Pemerintahan otokrasi Raja Rana memunculkan gerakan prodemokrasi pada akhir tahun 1940 di Nepal. Upaya penggulingan Raja Nepal itu pun kemudian mendapatkan momentumnya dengan kondisi regional yang tegang, yaitu didudukinya Tibet oleh China tahun 1950.

India yang khawatir akan semakin jauhnya pergerakan China di kawasan Himalaya kemudian mendorong Tribhuvan sebagai raja baru Nepal. Juga didorong adanya sistem pemerintahan yang multipartai. Sejak itu hegemoni kerajaan pun berkurang. Namun, eksperimen demokrasi itu dihapuskan raja pada tahun 1959. Nepal kemudian diperintah dengan sistem tanpa partai hingga tahun 1989.

Gerakan Rakyat atau disebut Jan Andolan memaksa kerajaan menerima perubahan konstitusi dan membangun parlemen multipartai pertama di Nepal pada Mei 1991.

Ketidakpuasan atas sistem parlementer kerajaan membuat Partai Komunis Nepal, atau yang dikenal dengan kelompok Maois, melancarkan aksi pemberontakan bersenjata tahun 1996. Sejak itu terjadi perang sipil di Nepal yang telah menewaskan lebih dari 12.000 orang.

Namun, garis hidup Kerajaan Nepal agaknya ditentukan oleh ulah keluarga kerajaan sendiri. Pada 1 Juni 2001, dunia dikejutkan dengan pembantaian di istana kerajaan. Raja Birendra, ratu, dan putra mahkota Pangeran Dipendra termasuk korban yang tewas dalam peristiwa berdarah itu.

Saudara Birendra, Gyanendra, pun naik takhta dan langsung membubarkan pemerintahan. Dia pun mengambil alih semua kekuasaan eksekutif untuk melawan pemberontakan Maois. Namun, Gyanendra tak pernah berhasil. Bahkan, dorongan demokrasi semakin menguat di Nepal. Kerajaan pun harus segera diakhiri. (Yahoo/Thamel.com/OKI)

Wednesday, April 16, 2008

Politik Pengusaha Berlusconi

Kemenangan Silvio Berlusconi dalam pemilu parlemen di Italia hari Selasa lalu membuktikan bahwa karakter seseorang berperan penting dalam politik.

Silvio Berlusconi (71), yang mengibarkan bendera koalisi konservatif People of Freedom (koalisi Forza Italia dan Alleanza Nazionale), memenangi 167 kursi dari 315 kursi di senat dan merebut 340 dari 630 kursi di majelis rendah. Kemenangan itu telah membawa Berlusconi, pengusaha sekaligus politisi ini, menduduki kursi perdana menteri untuk yang ketiga kalinya.

Pertama kali ia menjadi perdana menteri pada tahun 1994. Lalu, tahun 2001 terpilih kembali. Tahun 2006, ia digantikan Romano Prodi yang hanya bertahan dua tahun karena mosi tidak percaya di Senat.

Apa yang membuat rakyat Italia menjatuhkan pilihan kepada tokoh kontroversial, flamboyan, orang terkaya di Italia, pemilik imperium bisnis seperti media, periklanan, asuransi, makanan, dan konstruksi serta pemilik klub sepak bola AC Milan ini?

Kolumnis di koran Il Corriera della Sera, Beppe Severgnini, menyebut rakyat Italia terkena ”sindrom Zorro”. Paling kurang setiap 10 tahun, rakyat Italia membutuhkan seseorang yang mampu menyelamatkan mereka. Pertama kali Benito Mussolini, lalu Amerika, Uni Eropa, lalu para hakim antikorupsi. Kini Berlusconi.

Berlusconi dipandang sebagai seorang pengusaha yang memiliki karisma dan dapat menyelamatkan Italia yang saat ini tengah menghadapi persoalan besar, antara lain utang pemerintah yang demikian besar, pertumbuhan rendah, dan daya saing ekonomi yang menurun.

Tahun 2007, utang pemerintah 104 persen dari produk domestik bruto tahunan, sementara rata-rata negara anggota Uni Eropa hanya 60 persen. Itu berarti Italia harus membayar bunga 70 miliar euro setiap tahun. Soal lain yang dihadapi Italia adalah dalam hal keselamatan kerja. Hampir 100 buruh setiap bulan tewas saat bekerja. Ini berarti 10 kali lebih tinggi dibandingkan Inggris.

Ada impian dalam diri rakyat Italia untuk mengembalikan kebesaran negerinya, seperti tertulis dalam sejarah. Mereka berharap bahwa Italia mampu berperan di Eropa seperti pada zaman Kekaisaran Romawi dulu.

Dalam diri Berlusconi, yang pandai ”berjualan” dan menawarkan mimpi, rakyat Italia juga berharap. Sebagai pengusaha yang biasa berpikir dan mengambil keputusan cepat serta berani mengambil risiko, Berlusconi akan mampu menjadi penyelamat. Pengusaha cenderung berpikiran realistik, pragmatik, tidak terlalu berbunga-bunga, tidak bertele-tele, tidak banyak wacana, cepat, dan berani mengambil keputusan.

Itulah yang diharapkan rakyat Italia saat ini.

Tuesday, April 15, 2008

Anwar Bebas Berpolitik Praktis

PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi Mulai Singgung soal Suksesi Selasa, 15 April 2008 | 00:50 WIB

Kuala Lumpur, Senin - Larangan untuk terjun ke panggung politik praktis bagi pemimpin oposisi Anwar Ibrahim telah berakhir, Senin (14/4). Partai Keadilan berencana memperingati hal itu dengan menggelar aksi protes walau kepolisian sejak awal menegaskan akan membubarkan protes itu dengan paksa.

Aksi protes itu sekaligus menjadi peringatan gerakan reformasi dan periode kebangkitan rakyat Malaysia. Selama ini, aksi protes atau ajang berkumpul untuk kepentingan politik diatur ketat oleh Pemerintah Malaysia. Lokasi acara peringatan ”kebebasan” Anwar itu dijaga ketat unit kepolisian anti-huru hara.

”Kami belum memberi izin untuk acara itu. Saya minta supaya orang-orang tidak ikut hadir. Acara itu dilarang,” kata Kepala Kepolisian Kuala Lumpur Muhammad Sabtu Osman, Senin (14/4) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Dalam acara itu, seyogianya Anwar memaparkan rencana- rencananya di masa depan. ”Biarkan saja ia membuat kejutan,” kata Wakil Presiden Partai Keadilan Syed Husin Ali.

Namun, polisi Malaysia secara paksa telah menghentikan pidato Anwar dan acara arak-arakan yang sempat dihadiri lebih dari 10.000 orang. ”Polisi telah meminta kami berhenti sehingga kami membatalkannya, dan kami memilih memenuhi tuntutan itu hingga kami berhasil memimpin negara,” kata Anwar.

Sekitar 300 aparat, termasuk polisi antihuru-hara, dipersenjatai dengan truk-truk penyemprot. Anwar sempat berbicara selama satu jam hingga polisi melarang.

Syed Husin Ali menegaskan, acara itu adalah wilayah pribadi dan bukan di ruang publik. ”Kami tidak mengerti kenapa polisi kemudian berubah pikiran. Padahal sejak awal mereka sudah terlibat dalam diskusi mengenai teknis penyelenggaraan, seperti pengaturan lalu lintas dan keamanan,” ujarnya.

Energi besar

Kembalinya Anwar secara formal ke panggung politik kemungkinan akan memberi energi dan semangat lebih besar kepada oposisi Malaysia yang mendapat kemenangan besar pada pemilu lalu. Oposisi mendapat 88 dari 222 kursi parlemen dalam pemilu 8 Maret dan menguasai lima dari 13 negara bagian di Malaysia.

Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi sekali lagi menegaskan tidak akan mundur dan akan kembali mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin partai yang berkuasa, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), pada pemilu partai, Desember 2008.

Pekan lalu, Badawi menyatakan akan menyerahkan kekuasaan kepada Wakil PM Najib Razak. Badawi juga mengaku akan membahas rencana suksesi itu setelah bulan Desember.

Segera setelah pernyataan Badawi itu muncul, berbagai pihak mendesak Badawi untuk segera menyusun rencana itu secara resmi. Desakan-desakan itu berasal dari Muhyiddin Yassin, Menteri Perdagangan sekaligus Wakil Presiden UMNO. Ia khawatir UMNO akan tenggelam jika tidak ada perubahan dalam struktur kepemimpinan.

”Sentimen di tingkat bawah memanas,” ujarnya.

Menteri Luar Negeri Rais Yatin telah menegaskan, anggota UMNO memiliki hak meminta Badawi mundur atau paling tidak mengumumkan rencana suksesi.

”Saya pikir jika rencana suksesi diumumkan, maka para pemimpin kelompok akar rumput akan tahu kepastian jadwalnya. Hal itu baik untuk menstabilkan partai. Akar rumput sebaiknya diberi kesempatan untuk menunjukkan perasaan mereka,” ujarnya.

Sejak kalah di pemilu, Badawi didera tuntutan supaya dirinya mundur. Jika Badawi segera mundur, hal itu akan memudahkan proses penyerahan kekuasaan. Sejak kalah, Badawi sebenarnya sudah mengaku ikut bertanggung jawab. Ia juga sudah mengaku tidak akan mempertahankan kekuasaan. Meskipun demikian, ia juga telah mencanangkan program perbaikan sosial ekonomi di Malaysia. (REUTERS/AFP/AP/LUK)

Krisis Pangan Lebih Berbahaya

Kelanggengan Rezim di Negara-negara
yang Demokratis Menjadi Taruhan
EPA/MIKE F ALQUINTO / Kompas Images
Warga Filipina antre untuk membeli beras bersubsidi dari pemerintah di sebuah jalan di Quezon City, Manila utara, Senin (14/4). Para pejabat Filipina menepis kemungkinan negara akan kacau akibat protes yang dipicu pangan langka dan harganya mahal, seperti yang telah menimpa Haiti, di mana Perdana Menteri Jacques Edouard Alexis dijatuhkan oleh Senat, Sabtu (12/4). Meskipun demikian, Pemerintah Filipina sangat gencar mendistribusikan beras bersubsidi untuk mencegah protes besar-besaran.
Selasa, 15 April 2008 | 00:51 WIB

Washington, Senin - Menteri-menteri keuangan mengatakan bahwa kelangkaan dan meroketnya harga pangan lebih membahayakan stabilitas ekonomi dan politik dibandingkan dengan krisis yang terjadi di pasar keuangan.

Perhatian para menteri yang bertemu beralih dari persoalan penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang dicemaskan akan merembes ke negara lain. Mereka fokus pada krisis pangan dan menyerukan agar negara kaya memenuhi janji untuk mencegah bencana kelaparan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

”Selama akhir pekan ini, kami telah mendengar berulang kali dari para menteri negara maju dan negara berkembang yang mengatakan, masalah pangan adalah isu yang paling utama. Kita harus menempatkan uang yang ada sehingga dapat menaruh makanan di mulut-mulut warga yang lapar. Itulah keadaan yang sebenarnya,” kata Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick di Washington, Minggu (13/4) waktu setempat.

Warga antre

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Dominique Strauss-Kahn mengatakan, krisis pangan akan mengganggu kelangsungan rezim demokrasi dan politik.

”Seperti yang kita ketahui di masa lalu, persoalan-persoalan seperti itu dapat mengarah ke peperangan. Kita sekarang perlu mengerahkan sepenuh waktu kita untuk menjawab masalah itu,” kata Staruss-Kahn.

Di Singapura, salah satu negara terkaya di kawasan Asia Tenggara, terjadi antrean pencari makanan gratis yang semakin panjang. Pada akhir pekan, setidaknya ada 5.000 orang antre di kuil Buddha Singapura yang memberikan makanan vegetarian gratis. Tiga bulan lalu, menurut ketua kuil Lee Bock Guan, antrean itu hanya sekitar 3.000 orang.

”Harga makanan telah naik padahal gaji mereka tidak naik terlalu banyak. Penghasilan mereka tidak cukup untuk membeli makanan yang semakin mahal,” katanya lagi.

Lembaga lain yang juga menyediakan makanan gratis di Singapura, Asosiasi Wanita Muda Kristen, mengatakan, ada penurunan sumbangan beras yang diterima belakangan ini. ”Salah satu kemungkinannya adalah mahalnya harga beras,” ujar salah seorang pengurusnya, Han Shin Hui.

Di Kabul, Afganistan, Program Pangan Dunia PBB (WFP) telah mulai mendistribusikan beberapa ton makanan untuk warga Afganistan yang terkena dampak tingginya harga gandum.

Lembaga itu mulai mendistribusikan 30.000 metrik ton gandum, kacang-kacangan, minyak goreng, dan garam di seantero Afganistan sejak lima pekan lalu.

”Kami berusaha mencapai target, yaitu mereka yang paling memerlukan,” kata Rick Corsino, Kepala WFP di Afganistan.

Sumbangan makanan itu ditujukan bagi keluarga yang dikepalai oleh wanita dan orang cacat, serta keluarga besar yang ditopang oleh satu penghasilan saja.

WFP telah mendistribusikan 6.000 metrik ton makanan untuk 400.000 orang. Lembaga itu memerlukan dana sebesar 78 juta dollar AS untuk memberi makan 2,5 juta warga Afganistan yang tidak mampu membeli bahan pangan. Harga tepung terigu telah naik 60 persen di Afganistan dibandingkan dengan tahun lalu. (Reuters/NYT/AFP/joe)

Monday, April 14, 2008

RI-Suriah

Akar Historis Sejak 1947
Minggu, 13 April 2008 | 00:52 WIB

Indonesia tentu tidak bisa melupakan jasa diplomat senior yang juga wakil tetap Suriah di PBB tahun 1947, Faris al-Khouri. Dia lah yang secara gigih memperjuangkan agar masalah Indonesia dibawa pada forum DK PBB yang akhirnya berhasil mengeluarkan resolusi dalam bentuk instruksi agar segera dihentikan agresi militer Belanda dan harus dicapai penyelesaian damai melalui perundingan.

Peristiwa historis di gedung PBB itu, kemudian menjadi fondasi hubungan bilateral Indonesia-Suriah. Suriah pun merupakan salah satu negara Arab yang pertama memberi pengakuan atas kemerdekaan Indonesia. Maka, genaplah usia 60 tahun bagi terjalinnya hubungan kedua negara itu pada tahun 2007 lalu.

Bahkan menurut Dubes RI untuk Suriah, Muzammil Basyuni kepada majalah Suriah "Al AZMENAH" edisi 9 Maret 2008, hubungan Indonesia-Suriah sesungguhnya sudah terjalin sejak sebelum kedua negara meraih kemerdekaannya dan hubungan tersebut berkembang tidak hanya antara kedua pemerintah namun juga di level rakyat dan personal.

Basyuni mengakui, merasakan adanya kekuatan hubungan kedua negara itu, ketika ia berkunjung ke beberapa daerah di Suriah dan bertemu para tokohnya. Usia hubungan Indonesia-Suriah yang cukup tua itu, sudah selayaknya diwarnai oleh hiruk pikuk hubungan berbagai sektor (politik, ekonomi, perdagangan, sosial dan budaya, red) dengan segala dinamikanya selama lebih dari 60 tahun terakhir ini.

Dubes Basyuni mengakui pula, terdapat banyak tantangan untuk mempertahankan dan lalu mengembangkan hubungan kedua negara di semua sektor sehingga rakyat kedua negara bisa mengambil manfaat dari berkembangnya hubungan tersebut. Karena itu, lanjut Basyuni, Kedubes RI di Damascus selalu berpartisipasi dalam aktivitas kebudayaan dan pariwisata di Suriah, serta sebaliknya Kedubes RI itu berusaha memperkenalkan Suriah pada rakyat Indonesia agar lebih komunikatif dan hubungan lebih kuat antara pemerintah dan rakyat kedua negara ini.

Indonesia dan Suriah selama ini masing-masing saling memandang memiliki posisi strategis di kawasannya. Indonesia melihat Suriah sebagai negara yang memiliki posisi penting dan strategis, baik dalam kerangka pengembangan hubungan dan kerjasama bilateral, upaya proses perdamaian regional, serta dalam konteks pelaksanaan hubungan dan kerjasama internasional.

Suriah pun juga menghargai dan mengapresiasi posisi dan konsistensi sikap pemerintah Indonesia yang sepenuhnya mendukung perjuangan bangsa Arab serta tuntutan pengembalian Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak tahun 1967.

Pada tataran regional dan internasional, hubungan RI-Suriah terjalin erat melalui berbagai forum kerjasama internasional, antara lain melalui forum OKI, GNB dan PBB. Kedua Negara mengupayakan untuk saling memberikan dukungan bagi pencalonan masing-masing pada keanggotaan badan internasional. Suriah selalu memberikan dukungan atas pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB, Dewan HAM, ICAO, IMO, dan External Auditor WHO.

Kedekatan politis kedua Negara itu, membantu memberikan ruang gerak dan iklim yang kondusif bagi pengembangan kerjasama ekonomi RI-Suriah. Dari sisi investasi, Suriah memang tidak termasuk negara yang menjadi tarjet promosi investasi Indonesia mengingat kondisi perekonomian Suriah yang masih berkembang dan juga tengah mengupayakan masuknya modal asing.

Namun di sektor perdagangan, hubungan kedua Negara mencatat perkembangan berarti. Selama tiga tahun terakhir ini, transaksi perdagangan RI-Suriah mengalami peningkatan berarti dengan surplus dipihak Indonesia. Pada tahun 2006, neraca perdagangan kedua Negara mencapai 62,4 juta dollar AS yang terdiri dari ekspor Indonesia sebesar 55,7 juta dollar AS dan impor 6,7 juta dollar AS. Pada tahun 2007, nilai perdagangan RI-Suriah mencapai 68 juta dollar AS dengan surplus dipihak Indonesia. Sejumlah eksportir produk Indonesia yang kompetitif selama ini telah mampu menjangkau dan memasuki pasar Suriah, antara lain produk kertas, komponen kendaraan (ban dan velg kendaraan), barang elektronik dan peralatan listrik, mi instan, serta produk kayu.

Sejumlah produk andalan Indonesia penting lainnya kini juga mulai memasuki pasar Suriah, antara lain produk bahan bangunan, peralatan rumah tangga serta produk-produk home appliance dan furniture. Sedangkan impor Indonesia dari Suriah mencakup kapas dan buah-buahan.

Sanksi ekonomi AS yang dijatuhkan kepada Suriah sejak tahun 2005, justru membuka peluang pengembangan kerjasama perdagangan secara lebih luas. Hal ini karena para pengusaha dan dunia usaha Suriah berupaya memanfaatkan hubungan bisnis dan perdagangan dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, arus kunjungan bisnis pengusaha Suriah ke Indonesia mengalami kenaikan 50 persen, baik dalam rangka transaksi dagang maupun menghadiri pameran untuk products sourcing dan pengembangan hubungan dagang.

Dibidang sosial budaya, pengiriman pelajar/mahasiswa Indonesia ke Suriah juga mengalami peningkatan. Melalui kerangka kerjasama sosial budaya yang dimulai sejak tahun 1988, Departemen Agama RI mendapatkan jatah sebanyak 15 bea siswa untuk pelatihan Imam dan Khatib pada lembaga pendidikan Islam Mujamma' Sheikh Ahmad Kaftaro selama tiga bulan. Pada tahun 2002, lembaga tersebut tidak menerima mahasiswa asing, tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kembali menerima mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hingga saat ini, adasekitar 80 pelajar Indonesia di lembaga tersebut. Pada tahun 2007, tercatat 12 mahasiswa Indonesia diterima diberbagai perguruan tinggi agama di Suriah, sehingga saat ini terdapat 139 pelajar/mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Suriah, antara lain di universitas Kaftaro, Ma'had Sheikh Badaruddin, universitas Fatah al Islami, Universitas Damascus, Lembaga Bahasa Arab Ma'had Fatah, universitas Azad Islami, universitas cabang Al Azhar, Ma'had al Tahzieb dan Ma'had Mambej di Aleppo.

Di Suriah, kini juga terdapat sekitar 50.000 TKW/TKI asal Indonesia yang berstatus illegal karena masuk ke Suriah tanpa menggunakan visa kerja. TKW tersebut seluruhnya bekerja di sektor informal/penatalaksana rumah tangga. Tentu keberadaan TKW/TKI dalam jumlah cukup besar di Suriah itu, menjadi sumber devisa cukup besar pula bagi pemerintah dan negara Indonesia. Mereka mendapat gaji per bulan rata-rata 100 dollar AS.

Bisa dikalkulasikan devisa yang diraup dari TKW/TKI di Suriah itu, dengan asumsi 100 dollar AS x 50.000. Penempatan TKW ke Suriah mulai marak sejak tahun 2001, ketika pemerintah Suriah secara resmi mengizinkan tenaga kerja asing untuk bekerja di sektor informal, yang diatur dalam keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 234/ON. Meskipun demikian, keputusan tersebut hanya mengatur mengenai izin masuk tenaga kerja asing sektor informal ke Suriah dan tata cara pengurusan izin tinggal mereka, tanpa secara eksplisit menyebutkan mekanisme penempatan tenaga kerja asing itu sendiri.

Meskipun Depnakertrans RI pada saat ini belum menjadikan Suriah sebagai Negara tujuan penempatan TKI ke luar negeri, banyak PPTKI illegal yang menempatkan TKI ke Suriah melalui berbagai cara, termasuk mengatur rute pemberangkatan mereka agar tidak diketahui oleh aparat berwenang di Indonesia.

Sejalan dengan melonjaknya jumlah TKI di Suriah, maka berbagai permasalahan yang harus ditangani KBRI Damascus juga semakin meningkat. Bentuk permasalahan tersebut, juga semakin berkembang dari waktu ke waktu. Pada awalnya masalah yang timbul hanya menyangkut soal gaji atau TKW yang tidak betah, lalu kini berkembang menjadi kasus-kasus yang lebih rumit seperti sakit fisik, sakit mental, kecelakaan, bunuh diri, pencurian, tindak asusila dan kematian.

Itulah liku-liku hubungan bilateral Indonesia-Suriah selama lebih dari 60 tahun terakhir ini.*(mth)

Kapitalisme Malu-Malu di Suriah

Perubahan dari kebijakan ekonomi pasar sosialis


Minggu, 13 April 2008 | 00:52 WIB

Musthafa Abdul Rahman

Sabtu 29 Maret 2008, malam hari di kota Damascus. Tampak arus manusia keluar masuk Mal Sham City Centre di kawasan elit Kafr Suseh. Itulah wajah gaya hidup golongan kelas menengah Suriah yang biasa jalan-jalan dan berbelanja di Mal mewah. Itu pula yang menggoreskan bahwa kota Damascus dan gaya penduduknya kini mengikuti jejak kota-kota besar lain di Timur Tengah seperti Dubai, Cairo dan Istanbul.

Kesan bahwa kota Damascus lebih tertutup dibanding kota-kota besar lainnya di Timur Tengah, segera sirna pula. Di Damascus dan negeri Suriah, lain politik lain pula ekonomi. Suriah secara politik masih seperti dulu yakni didominasi penuh Partai Sosialis Arab Baath yang amat sentralistis. Namun Suriah secara ekonomi, cenderung membuka diri mengarah pada kapitalisme.

Damascus telah berubah! Itulah kesan yang pasti didapat oleh siapa pun yang berkunjung ke Damascus saat ini. Kehadiran Mal modern, kemacetan lalu lintas dan kualitas kendaraan yang berseleweran di jalan-jalan utama Damascus, menjadi representasi adanya perubahan signifikan di ibu kota Suriah tersebut.

Sham City Center yang terdiri dari empat lantai adalah salah satu Mal mewah di Damascus dan sekaligus menjadi simbol mulai menggeliatnya kapitalisme di Suriah saat ini. Masih ada Mal mewah lain, yakni Town Center, dipinggiran Damascus.

"Di Sham City Centre ini warga Damascus yang berduit menghabiskan uangnya untuk berbelanja atau makan-makan di restoran atau juga sekedar minum-minum di kafe yang tersebar di Mal ini, " ujar Fasiha, seorang pelajar putri asal Singapura yang hampir satu tahun berada belajar bahasa Arab.

”Di Sham City Center ini, banyak produk luar negeri dijual seperti barang-barang asal China, Eropa dan Turki. Tapi harga barang-barang disini cukup mahal, karena itu yang berani belanja disini hanya orang-orang kaya Suriah, ” tambahnya.

Sham City Center memang mewakili potret sebuah perubahan perekonomian Suriah secara signifikan dari sosialisme yang dikontrol penuh negara kearah kapitalisme yang membuka pintu lebar-lebar pada swasta dan investor asing.

Perubahan kearah kapitalisme tersebut juga segera dirasakan jika menyelusuri jalan-jalan di Damascus. Kini tidak lah sulit menemukan mobil produk Jepang model paling akhir di jalan-jalan raya Damascus.

Bahkan mobil rakitan Indonesia seperti Toyota Avanza dan MPV sudah terlihat di sana. Pada jam-jam tertentu, seperti jam masuk kerja dan sekolah atau sebaliknya jam pulang kerja atau sekolah, jalan-jalan Damascus tampak macet.

”Dulu, setiap ada lampu merah di perempatan jalan, jejeran mobil yang menunggu hanya dua atau tiga lapis. Sekarang jejeran mobil yang menunggu bisa puluhan,” ujar seorang staf KBRI Damascus. ”Sekarang di Suriah, sudah bisa kredit mobil. Karena itu jumlah mobil di negeri ini membludak yang bisa dilihat di jalan-jalan yang mulai macet,” tambahnya lagi.

”Suriah sudah tidak seperti dulu lagi. Beberapa tahun lalu, di Suriah hanya ada barang produk dalam negeri saja. Sekarang mudah menemukan barang-barang produk luar negeri, terutama barang produk China,” kata seorang staf KBRI Damascus.

Sejauh pengamatan Kompas, barang produk asal China dari berbagai jenis sudah merambah di pusat-pusat pertokoan di Damascus baik pusat pertokoan tradisional seperti Hamidiyeh maupun pusat pertokoan modern seperti Sham City Centre dan Town Centre.

Sistem ekonomi pasar sosial

Tentu saja Damascus dan negeri Suriah tidak bisa berubah begitu saja. Ada kebijakan politik yang memayungi perubahan kearah kapitalisme itu. Adalah kongres partai Baath Sosialis Arab yang berkuasa di Suriah pada Juni 2005, menetapkan kebijakan penerapan sistem ekonomi pasar sosial (gabungan antara konsep ekonomi sosialis dan sistem ekonomi pasar/liberal kapitalis).

Jauh sebelumnya, yakni sejak tahun 2000, sesungguhnya proses reformasi ekonomi sudah dicoba digulirkan, namun masih penuh kehatian-hatian.

Dengan kata lain, kepemimpinan Presiden Bashar Assad yang dimulai tahun 2000 (ia menggantikan ayahnya, Hafez Assad, yang wafat pada Juni tahun 2000) menetapkan pilihan membuka kran ekonomi tapi dengan pengawasan ketat untuk tetap menjaga stabilitas dan keamanan negara yang masih dalam status perang dengan Israel.

Suriah pun kemudian menggeliat memasuki masa transisi dan transformasi dari sistem ekonomi sentralistis kearah ekonomi pasar terbuka. Berbagai paket kebijakan dan deregulasi dibidang investasi, keuangan dan perbankan, perdagangan dan fleksibilitas usaha swasta lalu diperkenalkan pada awal 2004.

Sejak awal tahun 2004 itu, pemerintah Suriah secara bertahap mengizinkan bank-bank swasta beroperasi. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi Suriah selama tahun 2006 mencapai 5 persen , Tahun 2007 naik menjadi 5,2 persen dengan pendapatan per kapita 1.570 dollar AS (sekitar Rp 14,4 juta) pertahun. Laju inflasi 11 persen dan angka pengangguran 9 persen.

Sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS sejak tahun 2005 tidak menjadi kendala berarti. Suriah memiliki struktur ekonomi berbasis pada sumber alam (perminyakan) dengan produksi 400.000 barrel per hari. Produksi di sektor pertanian seperti kapas, gandum, minyak zaitun dan buah-buahan.

Sektor pertanian telah menjamin swasembada pangan nasional dengan konstribusi 25 persen dari GDP dan menyerap 30 persen dari total angkatan kerja. Produksi pertanian khususnya Gandum yang mencapai 5 juta ton per tahun mampu menciptakan ketahanan pangan di kawasan Timur Tengah.

Sedangkan sektor pariwisata menjadi sektor pendukung dengan kontribusi 1,8 miliar dollar AS dan tingkat kunjungan 3,4 juta wisatawan per tahun.

Kebijakan ekonomi Suriah juga memacu melonjaknya arus masuk investasi asing, terutama dari negara-negara Arab dengan total nilai 7 miliar dollar AS untuk 550 proyek dalam berbagai kegiatan bisnis, infrastruktur dan sektor pariwisata.

Nilai investasi itu naik dari tahun 2004 yang hanya 4 miliar dollar AS. Saat ini, 70 persen dari nilai investasi Suriah dari investor lokal, 24 persen dari negara-negara Arab dan hanya 6 persen dari negara nonArab.

Di sektor perdagangan luar negeri, Suriah tetap mengandalkan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Turki sebagai mitra dagang tradisional utama. Suriah juga menjalin hubungan dagang cukup kuat dengan Uni Eropa, khususnya Jerman, Italia, Perancis dan Inggris.

Hubungan dagang Suriah dengan Rusia dan negara Eropa Timur mengalami perkembangan pesat, terutama setelah Rusia menerapkan elemen preferensial dan pengurangan bea masuk untuk produk Suriah ke Rusia.

Kebijakan ekonomi Suriah yang mendekatkan diri ke Asia juga telah memacu transaksi dagang terutama dengan China, Jepang, Indonesia dan Malaysia. Produk-produk impor Suriah mencakup mesin-mesin industri, peralatan transportasi dan komponen kendaraan, tekstil dan garmen. Minyak kelapa sawit dan barang-barang elektronik. Sedangkan produk andalan ekspor Suriah selain minyak mentah adalah kapas, tekstil, Fosfat dan produk pertanian.

Suriah juga telah berhasil menurunkan beban utang luar negeri melalui penjadwalan kembali pembayaran. Pada tahun 2004, Polandia menyetujui Suriah membayar sebesar 2,7 juta dollar AS dari total 261,7 juta dollar AS. Sementara pada awal tahun 2005, Rusia telah membebaskan utang Suriah senilai 13 miliar dollar AS. Republik Ceko dan Slovakia menghapus utang Suriah yang semula 1,6 miliar dollar AS menjadi 150 juta dollar AS melalui sekali pembayaran.

Dengan diterapkannya sanksi embargo terhadap Suriah sejak akhir tahun 2003 oleh AS melalui "Syria Account-ability Act", yang sangat mungkin akan menghambat dan mempersulit integrasi ekonomi nasional dalam perkembangan ekonomi global, maka pada pertengahan Februari 2006, pemerintah Suriah mengambil kebijakan mengubah seluruh transaksi dalam dan luar negeri dari mata uang dollar AS menjadi Euro.

Itulah perjuangan Suriah untuk bisa terus survive disektor ekonomi ditengah sanksi dari AS dan sejumlah negara Barat lain.

Monday, April 7, 2008

Badawi Balik Kecam Mahathir

Senin, 7 April 2008 | 01:16 WIB

KUALA LUMPUR, Minggu - Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, Minggu (6/4) di Kuala Lumpur, melancarkan serangan bernada pedas terhadap mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Serangan balik ini merupakan balasan atas desakan Mahathir pada Badawi.

Mahathir telah berulang kali menuduh PM Badawi menyuburkan praktik korupsi dan kroniisme dalam dua tahun terakhir. Mahathir mengulangi lagi desakannya agar Badawi mundur setelah Barisan Nasional gagal menguasai mayoritas mutlak di parlemen akibat penurunan perolehan suara pada pemilu 8 Maret lalu.

Badawi menegaskan, dia tidak akan mau mundur sebagai PM, juga tidak akan mau mundur sebagai Ketua Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yang menjadi pemimpin di Barisan Nasional, koalisi pemerintahan yang terdiri dari berbagai partai.

Badawi memberi sinyal bahwa ia sudah tidak sabar lagi dengan kecaman dan desakan beruntun yang meminta agar dirinya mundur. Pernyataan Badawi itu menegaskan lagi soal makin dalamnya perseteruan Mahathir- Badawi, dua tokoh utama politik Malaysia.

Adalah Mahathir yang memilih Badawi sebagai penggantinya pada tahun 2003, setelah 23 tahun Mahathir berkuasa sebagai perdana menteri.

Menyalahgunakan kekuasaan

Badawi juga menegaskan bahwa, ”Dia (Mahathir) kuat, namun kekuatan itu disalahgunakan,” katanya dalam jumpa pers.

Ia mengakui bahwa hingga kini di UMNO, Mahathir masih merupakan figur yang kuat. ”Akan tetapi, tolong beri kesempatan kepada saya untuk menjalankan pemerintahan,” kata Badawi.

Dia mengingatkan bahwa kecaman terus-menerus yang dilakukan Mahathir soal kebijakannya hanya akan memperlemah UMNO. Pekan lalu, Mahathir juga meminta anggota UMNO melakukan pemberontakan terhadap PM Badawi.

Mahathir juga menegaskan bahwa Barisan Nasional kehilangan mayoritas semata-mata karena warga kecewa pada PM Badawi. Namun, Badawi balik menuduh Mahathir sebagai seorang yang munafik.

Badawi memberi contoh betapa Mahathir telah memenjarakan sejumlah orang atau tokoh yang pernah mengkritik Mahathir saat dia berkuasa. Ia juga menuduh Mahathir menyumbat kebebasan media selama periode 1981-2003.

”Semua ini terjadi karena dia (Mahathir) telah memberi perintah yang berlangsung dari waktu ke waktu,” katanya.

Sejumlah politisi kini memberi opini bahwa Mahathir sebaiknya diusut karena telah menyalahgunakan kekuasaan. Badawi tidak berkomentar soal desakan tersebut, yakni agar Mahathir diusut.

Namun, Badawi menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang akan kebal dari hukum jika bukti-bukti memperlihatkan kesalahan.

Konspirasi

Atas komentar tersebut, Mahathir tidak tinggal diam. Ia mengatakan bahwa pernyataan Badawi merefleksikan sebuah konspirasi yang kini sedang terjadi di pemerintahan untuk menyudutkan dirinya.

”Mereka sedang mencoba menemukan bukti soal kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan mereka sendiri,” kata Mahathir.

”Ya, seharusnya kita bersatu, namun bersatu untuk tujuan apa? Jika seseorang memiliki kaki yang lumpuh, kita pasti akan mengatakan bahwa kita tidak perlu mendukungnya. Kita harus mengamputasi kaki itu untuk menyelamatkan banyak pihak,” kata Mahathir.

Di mata Mahathir, Badawi adalah bagian dari masalah, yang menyebabkan Barisan Nasional meraih suara yang lebih sedikit dalam pemilu lalu. Mantan Perdana Menteri Malaysia ini mengatakan, ia hanya akan berhenti menyerang jika Badawi juga berhenti melakukan serangan, termasuk berhenti melanjutkan praktik kolusi, korupsi dan nepotisme.

PM Badawi juga mengkritik Razaleigh Hamzah, anggota parlemen dari UMNO, karena mengkritik dan menuntut pengunduran dirinya. Badawi juga mengecam Anwar Ibrahim, tokoh opisisi utama yang berhasil menyatukan semua kalangan oposisi Malaysia, yakni dari etnis China, India, dan Melayu.

PM Badawi mengatakan, Razaleigh adalah seorang yang egois. Tentang Anwar, PM Badawi mengatakan bahwa tokoh oposisi ini hanya memiliki sebuah harapan yang muluk-muluk untuk menjadi perdana menteri Malaysia.

”Anwar menjuluki dirinya sebagai seorang pemimpin yang sedang menantikan waktunya akan tiba untuk jadi pemimpin. Dia bisa saja menanti. Namun, sayalah yang memimpin sekarang ini,” kata PM Badawi. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Irak, dari 1001 Malam ke Sejuta Janda

Senin, 7 April 2008 | 15:01 WIB

SEBUAH mobil meledak di sebuah kios es krim yang sangat populer di Baghdad. Api membakar bangunan di sekitarnya sedangkan pecahan bom menembus tubuh-tubuh manusia tak berdosa yang kebetulan berada di situ. Tujuh belas orang tewas dan puluhan lainnya luka.

Serangan bom pada hari pertama bulan Agustus 2007 itu hanya sehari dua menghiasi halaman koran-koran di seluruh dunia. Setelah itu segera dilupakan orang, karena tersaji berita-berita serangan berikutnya yang kadang menelan korban lebih banyak.

Namun insiden itu mengubah nasib Maysa Sharif (28). Seketika itu juga ia bergabung dengan hampir sejuta perempuan Irak lain yang menjadi janda karena suami mereka terbunuh dalam tiga kali perang dan era Saddam yang bergelimang darah.

Besarnya jumlah janda itu menjadi malapetaka tersendiri bagi Irak yang entah kapan menjadi negara damai. Tanpa jaring pengaman sosial dan lapangan kerja yang sangat minim, para janda itu tidak banyak punya pilihan untuk menghidupi keluarganya dan sangat tergantung pada belas kasihan orang lain yang lebih beruntung.

Maysa sedang hamil lima bulan dan pagi itu ia sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya ketika ledakan itu menggetarkan rumahnya di pusat Baghdad. Ia langsung lari ke tempat suaminya, Hussein Abdul-Hassan menjaga kios rokoknya. Laki-laki itu dilihatnya sudah tergeletak di tanah.

"Pecahan bom menembus badannya dan kepalanya terkuak. Mata dan mulutnya juga terbuka," kata Maysa menuturkan pengalamannya pagi itu.

"Sebenarnya saya ingin memeluknya, tapi polisi menyeret saya menjauh. Mereka khawatir ada ledakan susulan," tambahnya.

Mimpi buruknya belum berakhir. Saif, anak laki-lakinya yang baru berusia 7 tahun, waktu itu ikut sang ayah berjualan. Bocah itu tidak ditemukannya. Ia baru mendapat kabar, Saif meninggal di rumah sakit ketika jenazah sang suami sedang diantar untuk dimakamkan di kota suci Najaf.

Iring-iringan jenazah lalu balik ke Baghdad, lalu meletakkan jenazah Saif di peti yang sama. "Mereka melarang saya melihat jenazah anak saya. Saya juga dilarang ikut ke Najaf, karena saya sedang hamil. Saya tidak percaya Saif meninggal, sampai saya kemudian menerima surat kematiannya," katanya.

Maysa kini tinggal bersama tiga anaknya, Ali (10), Tabarak (2) dan Abdullah yang namanya dipilih Hussein malam sebelum kematiannya. Mereka tinggal di sebuah kamar di rumah kakak ipar Maysa di pusat Baghdad.

Bagaimana masa depan Maysa dan ratusan ribu janda lain di Irak? Tidak jelas. Dengan prioritas perjuangan pemerintah sekarang untuk melepaskan diri dari krisis politik dan perang yang memasuki usia enam tahun, maka rintihan perempuan seperti Maysa jelas terabaikan.

Menurut hasil survei Samira al-Moussawi, anggota parlemen yang dikenal dengan pembelaannya terhadap para janda, jumlah janda di seluruh Irak mencapai 738.240 orang. Rentang usia mereka mulai dari 15 tahun hingga 80 tahun pada Januari 2007. Jumlah itu hasil hitungan sejak perang Iran-Irak 1980-1988. Termasuk di dalamnya yang ditinggal suami yang meninggal secara alami.

Menteri Urusan Perempuan Nirmeen Othman mengingatkan bahwa persoalan ini bisa menjadi krisis sosial di masa damai. Ia memperkirakan jumlah janda di Irak sekarang 1,3 juta. Generasi berikutnya pasti terancam, katanya.

Sebuah sekolah dasar baru saja dibuka untuk menampung 640 anak yatim piatu di Sadr City, Baghdad. Kepala sekolahnya, Asma Karim mengatakan, mereka berada di situ karena tidak ada jaminan masa depan bila terus tinggal di rumah.

"Orang-orang tersisa yang mau merawat anak anak ini lebih memikirkan bagaimana mereka bisa bertahan hidup, soal pendidikan nomor kesekian," kata Asma.

Al-Moussawi, geolog yang beralih menjadi politisi, mengaku kewalahan dengan permintaan bantuan, termasuk 448 surat yang dikirimkan ke kantornya baru-baru ini dalam sebuah kantong plastik dari kawasan Syiah, Diwaniyah. "Tidak ada satu pun strategi. Kalau pun ada strategi untuk mengatasi masalah sosial ini adalah untuk kaum perempuan, bukan anak-anak," katanya.

Ia sekarang sedang mengajukan program berbiaya 1 juta dolar (sekitar Rp 9 miliar). Jumlah yang sangat kecil bagi negara kaya minyak seperti Irak yang anggaran belanjanya mencapai 48 miliar dolar AS. Program itu untuk memberikan pendidikan keterampilan bagi para janda dan meningkatkan pendapatan mereka. Sayangnya kabinet menolak program itu.

Umm Hiba (38) ibu dua anak yang tinggal di utara Baghdad menyalahkan diri sendiri atas kematian sang suami. Waktu itu, 27 Januari 2007, ia menyuruh suaminya ke pasar membeli yogurt untuk makan malam yang sedang dimasaknya. Sebuah mortir mengakhiri hidupnya.

"Itu salah saya. Kalau saya tidak menyuruhnya, dia pasti masih hidup bersama anak-anak," katanya sambil menangis dan menggendong anak laki-lakinya yang baru berusia 2 tahun.

Bersama anak perempuannya yang berusia 7 tahun, mereka tinggal di kamar belakang sebuah rumah. Di rumah itu ia tinggal juga ibu mertua yang buta dan keluarga lain. Ia membangun sebuah kamar mandi dan dapur darurat di situ.

Keluarga dan tetangganya mengumpulkan uang untuk biaya pemakaman suaminya. Namun ia terpaksa menjual furnitur untuk membeli domba untuk kurban peringatan satu tahun kematian laki-laki itu. Harga domba untuk menjalankan tradisi itu tidak cukup dibeli dengan uang pensiunnya yang cuma 62 dolar per bulan.

Umm Hiba mengaku selalu gagal mendapat pekerjaan. Setiap lamaran kerja selalu berakhir dengan penolakan. Sebenarnya ia masih bisa bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah. Namun ia ogah. "Saya punya ijazah SMA. Malu kan kerja seperti itu," katanya.

Uang pensiun itu semakin lama makin tidak bisa mencukupi untuk membeli makanan dan pakaian yang harganya terus naik. Di Irak semuanya mahal, kecuali nyawa manusia yang sangat murah," katanya.

Sebagai perbandingan, ketika Saddam masih berkuasa, janda korban perang akan mendapat jatah tanah, biaya pemakaman dan uang pensiun yang cukup.
Suami Jalila Hasan, Kadhum Mohammed berusia 29 tahun waktu ia tewas dalam perang Iran-Irak. Waktu itu Jalila masih berusia 17 tahun dan mendapatkan pensiun. Bahkan pemerintah memberinya pilihan pesangon, mobil atau uang tunai dengan jumlah setara. Jalila memilih yang kedua. "Dibanding sekarang, dulu kami lebih diperlakukan lebih baik. Tidak dibiarkan dalam kemelaratan," katanya.

Jalila yang sekarang tinggal bersama ibunya di Sadr City masih mendapatkan pensiun 80 dolar per bulan, tetapi nilainya sekarang sudah merosot jauh.

Afifa Hussein ditinggalkan sang suami Uraibi Hamid (58) yang tewas ditembak orang tak dikenal 14 Juli lalu di Samara. Tinggallah sekarang Afifa dengan delapan anaknya. Ia harus berjuang merawat dua putranya yang cacat dan seorang putrinya yang sakit-sakitan. Untuk mendapatkan uang tambahan bagi keluarganya, putranya yang berusia 19 tahun menjadi sopir taksi, sebuah profesi yang amat berbahaya di Irak sekarang.

Seorang putrinya putus sekolah karena tidak ada biaya, sedangkan satu putra lainnya yang trauma keluar dari rumah itu dan tinggal bersama keluarga di tempat lain.

Kisah memilukan lain meluncur dari mulut Badriyah Hamid (40), perempuan Syiah dengan 10 anak. Ia bekerja hingga larut malam di sebuah sekolah di desa Rashidiyah yang didominasi warga Sunni pada 23 Mei 2007. Saat itu ia mendengar suaminya, Fadhil Jafar, tewas ditembak dan mayatnya dibuang di pinggir jalan.

"Saya lari ke tempa itu bersama semua anak saya, kami memeluk mayatnya. Dia ditembak enam kali di punggung dan kepalanya," kata Badriyah.

Pembunuhan itu membuat salah satu putranya menderita amnesia, tidak bisa lagi membaca dan menulis, sehingga dikeluarkan dari sekolah. Namun sebagai keturunan Kurdi yang tangguh, Badriyah tidak menyerah begitu saja pada keadaan.

Lalu ia mengajak seluruh keluarganya pindah ke rumah keluarga suaminya. Namun ia kemudian khawatir anak-anak perempuannya akan dipaksa kawin dengan anak laki-laki keluarga itu. Jadi dengan uang sumbangan para tetangga ia pindah dari situ ke sebuah rumah dua kamar bersama anak-anaknya.

Untuk menyambung hidup, ia kadang-kadang mendapat pekerjaan sebagai petugas kebersihan, namun tetap saja uang yang dihasilkan tidak cukup. Ia khawatir, tanpa suami, anak-anaknya menjadi tidak terkendali, misalnya menjadi pengedar narkoba atau pengaruh buruk lainnya.

"Suami saya adalah segalanya dalam hidup saya. Tanpa dia, hidup ini terasa sangat sulit, karena tidak ada yang bisa membantu dan tidak ada yang bisa mengisi celah yang ditinggalkannya. Di samping harus mengatasi persoalan keuangan, saya juga harus menjaga moral anak-anak saya dan melindungi mereka dari lingkungan yang jahat," kata Badriyah.

Kisah Masya, Jalila, Afifa dan Badriyah secara total mengubah gambaran Irak sebagai negeri indah yang digambarkan dalam Kisah 1001 Malam. Kini Irak menjadi negeri sejuta janda dengan berjuta-juta anak yang tidak jelas masa depannya. Kalau saja perang berakhir, belum tentu penderitaan para janda ini turut berakhir.(AP)

Friday, April 4, 2008

Benang Merah Itu Telah Terputus...


KOMPAS/AGUS MULYADI / Kompas Images
Ribuan TKI bermasalah di Malaysia mendatangi Gedung KBRI di Kuala Lumpur, awal November 2004. Ini sebagai buntut penertiban pekerja asal Indonesia di Malaysia.
Jumat, 4 April 2008 | 01:07 WIB

Oleh Khairina

Terang Bulan terang di kali

Buaya timbul disangka mati

Jangan percaya mulut lelaki

Berani sumpah tapi takut mati...

Lagu Terang Bulan sempat sangat populer di Indonesia pada tahun 1937-1938, saat film berjudul Terang Boelan ”meledak”. Film yang ditangani Albert Balink dan wartawan Indonesia, Saroen, itu terkenal di seluruh Nusantara, bahkan sampai Singapura dan Tanah Semenanjung.

Inilah film pertama yang ”suaranya” sempurna. Hingga beberapa puluh tahun kemudian, lagu fenomenal itu masih dinyanyikan di sekolah-sekolah. Lagu itu baru berhenti diputar pada tahun 1957 saat Malaysia mendengungkan lirik lagu Terang Bulan sebagai lagu kebangsaan mereka.

Begitu pun lagu klasik Melayu lain, macam Dondang Sayang, yang sangat akrab di telinga masyarakat Melayu di Nusantara dan di Tanah Semenanjung (baca: Malaysia). Atau lagu-lagu dan film yang mengetengahkan sosok P Ramlee sebagai seniman Melayu dari Pulau Pinang—baik sebagai penyanyi maupun aktor— yang hingga akhir 1960-an masih digemari di kedua negara. Film Bujang Lapuk (sekadar menyebut satu di antara puluhan film komedi yang dibintangi P Ramlee) begitu populer di kedua negara.

Beberapa contoh kecil ini hanya untuk menggambarkan betapa dekatnya hubungan Indonesia dan Malaysia pada saat itu.

Mukhlis PaEni, Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Pranata Sosial, mengatakan bahwa saat itu hubungan budaya antarkedua negara begitu cair. Orang Indonesia akan merasa bangga saat lagu atau kesenian miliknya dimainkan negara tetangga.

Saking dekatnya hubungan Indonesia-Malaysia, kata Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia ini, bangsa Malaysia dianggap sebagai bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Dalam beberapa hal orang-orang Melayu ditolong oleh orang Indonesia. Pada era 1960-an, misalnya, guru-guru dari Indonesia dikirim ke Malaysia untuk mengangkat marwah dan harkat bangsa Melayu.

”Pemahaman seperti itu (bahwa Malaysia bagian dari Indonesia) sangat kental dalam pikiran orang Malaysia dan pikiran orang Indonesia,” kata Mukhlis.

Kenyataan ini juga diakui Datuk Zainal Kling dari Universitas Malaya, Malaysia. Bahkan, hingga kini pun begitu banyak orang Melayu-Malaysia yang masih memiliki kerabat di Indonesia. Tak terbilang pula tokoh-tokoh Melayu di Tanah Semenanjung yang terus menelusuri jejak masa silam ”pupu-poyang” mereka yang berasal dari Nusantara.

”Secara pribadi, saya sendiri amat merasakan kemesraan tentang Indonesia itu sejak kecil di kampung. Meskipun pada waktu itu kampung saya di wilayah Naning, Melaka—yang berpegang pada sistem adat perpatih (matrilineal), tapi sudah sering sekali mendengar nama-nama kelompok ”asing” seperti ”orang Jawa”, ”orang Minangkabau”, ”orang Mandailing”, atau ”orang Aceh”. Namun, ”keasingan” itu tidak sedikit pun membedakan mereka dari kelompok Melayu,” tutur Datuk Zainal Kling.

Bahkan, semasa kecil ia mengaku kerap berinteraksi dengan amat mesra dengan orang-orang ”asing” tersebut. Ia pun suka mendengar cerita atau kisah pelayaran para tetangga ”asing” dari Minangkabau yang juga mereka panggil datuk atau nenek.

”Sudah jadi kegemaran kami pula membeli lemang (ketan yang biasanya dimasak di bumbung bambu) dari Bang Leman, orang Jawa yang kawin dengan Cik Som, gadis Minang itu. Sesekali nenek kami membuka kisah sejarahnya tentang bapaknya dari tanah Mandailing, yang sudah meninggalkan kampung kami untuk pulang ke Sumatera,” ujar Datuk Zainal Kling berkisah.

Tautan budaya dan sejarah

Hubungan mesra itu tak lepas dari sejarah yang menautkan kedua bangsa. Kerajaan dan kesultanan di Malaysia banyak yang berhubungan erat dengan kesultanan yang ada di Indonesia. Negeri Sembilan, misalnya, erat kaitannya dengan Minangkabau karena Raja Negeri Sembilan berinduk ke Pagarruyung.

Selangor atau Pahang terkait erat dengan Sulawesi Selatan karena Sultan Johor adalah keturunan Kesultanan Bugis. Demikian juga Kesultanan Melaka yang merupakan keturunan dari Raja Parameswara. Cikal-bakal pendiri imperium Melaka ini datang dari Bukit Siguntang (baca: Palembang). Adapun Perak dan Kedah sangat erat hubungannya dengan Aceh.

Apalagi ketika pada tahun 1911 Melaka jatuh ke tangan Portugis. Meski pusat kekuasaan orang- orang Melayu berpindah ke Johor, dan setelah itu berganti-ganti ke Bintan-Lingga-Johor-Penyengat, namun tidak sedikit di antara bangsawan Melaka yang eksodus dan tinggal di Indonesia. Bahkan, ada yang kemudian menetap di Buton, Ternate, Makassar, atau Sumbawa. Tidak heran pula bila hampir semua tradisi Nusantara di Indonesia Timur sangat kental dipengaruhi tradisi Melayu-Melaka dan Melayu-Johor.

Sayangnya, hubungan yang mesra itu terkikis 30 tahun terakhir.

Menurut Mukhlis PaEni, selama 30 tahun terakhir kedua negara sibuk memikirkan urusan ekonomi. Malaysia gencar membangun kebun kelapa sawit dan industri, sementara Indonesia membangun kilang-kilang minyak dan lainnya.

”Akibatnya, pertautan-pertautan budaya yang menyangkut hati nurani itu tidak muncul. Yang diurus kedua belah pihak lebih tertuju pada masalah ekonomi,” kata Mukhlis.

Saat resesi ekonomi mendera, Malaysia berhasil selamat, sementara Indonesia masih juga megap-megap sehingga banyak orang Indonesia terpaksa ”melarikan diri” ke Malaysia. Saat itulah muncul berbagai konflik, termasuk konflik budaya.

Generasi muda Malaysia yang tidak mengetahui asal-usul bangsanya hanya mengenal Indonesia sebagai ”Indon” yang berkonotasi negatif. Sebaliknya, generasi muda Indonesia hanya mengenal Malaysia sebagai bangsa yang arogan. Benang merah antarkedua negara itulah yang kini terputus.

Ketegangan yang sempat muncul akibat klaim Malaysia atas sejumlah produk budaya yang juga dimiliki Indonesia sebetulnya tak perlu terjadi bila kedua pihak memahami betul sejarah tentang asal-usul kedua bangsa. Apalagi bila mengacu semangat yang disuarakan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan kebudayaan PBB) bahwa setiap negara di dunia berhak mengajukan mata-mata budaya untuk dilestarikan.

”Jadi, misalnya, suatu mata budaya dimiliki oleh beberapa negara, maka mata budaya itu berhak dilindungi tersendiri dan bersama-sama. Dengan begitu tidak ada lagi yang mengatakan engkau yang lebih tua dan aku yang lebih muda. Semua negara yang memiliki mata budaya yang sama berhak mengajukan itu sebagai warisan yang harus diselamatkan,” ujar Mukhlis.

Itu sebabnya, menurut Mukhlis, sebenarnya tidak ada masalah berarti antara Indonesia-Malaysia. ”Konflik” budaya yang beberapa waktu lalu digembor-gemborkan, kata Mukhlis, adalah bagian dari politik.

Komoditas ekonomi

Sedikit berbeda dengan Mukhlis, Al azhar—budayawan Melayu dari Riau yang sehari-hari mengelola Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji di Pekanbaru— menganggap konflik budaya terjadi karena karya-karya budaya mengalami komodifikasi. Budaya dijadikan sebagai komoditas ekonomi. Malaysia, kata Al azhar, mampu mengemas ulang bentuk budaya yang ada dan menjadikannya komoditas untuk dijual.

Dia mencontohkan, dalam konteks Melayu-Riau, kultur yang ada di Riau sama persis dengan yang ada di Malaysia. Namun, Malaysia mengalami modernisasi yang cepat. ”Jadi, kalau mau melihat Melayu yang asli sudah susah mencarinya di Malaysia,” kata Al azhar.

Itu sebabnya, untuk mengonstruksi Melayu dan kemelayuan, Malaysia mencari sumber-sumber yang mungkin untuk memperkuat eksistensi kemelayuan di negara itu. Sumber terdekat yang seagama, sebahasa, dan seadat adalah Riau yang perkembangan kebudayaannya relatif lambat.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia sendiri tidak pernah serius memelihara kebudayaan Indonesia. Negara, kata Al azhar, bahkan menzalimi bentuk-bentuk kebudayaan dan mengobok-obok sarangnya. Dia mencontohkan hancurnya budaya yang menyatu dengan alam dan lingkungan sungai akibat hancurnya alam. Kebudayaan itu pada akhirnya juga ikut sekarat.

”Ada paradoks antara yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Di sini, kata dan laku adalah dua hal yang berbeda,” ujarnya. (ken)