Monday, November 26, 2007

Australia Memasuki Era Baru


Kekuasaan Partai Liberal Habis,

Mantan PM Howard Dipermalukan


sydney, minggu - Sehari setelah mencukur habis Partai Liberal pimpinan mantan Perdana Menteri John Howard dengan meraih 83 dari 150 kursi parlemen, PM Kevin Rudd, Minggu (25/11), berjanji akan menangani dua isu krusial, yakni perubahan iklim dan kebijakan perang Irak, seperti yang ia janjikan ketika kampanye.

Berakhir sudah kepemimpinan Howard selama 12 tahun. Masuk ke dalam era yang baru bagi Australia ini, Rudd berjanji akan melaksanakan semua janji yang pernah ia ucapkan ketika kampanye pemilu. Masalah pemanasan global dan rencana menarik pasukan keamanan Australia dari Irak termasuk dalam janji-janji kampanye Rudd (50). Tema-tema kampanye Rudd adalah masalah yang biasanya tidak disentuh Howard. Karena itu, alasan rakyat memilih Rudd semata-mata karena rakyat menginginkan ada perubahan di Australia. Sebagai permulaan, isu pemanasan global akan menjadi semacam ujian bagi Rudd karena persoalan itu yang dikhawatirkan mengingat Australia merupakan benua yang paling kering di bumi. Kini Australia mengalami musim kering terparah dalam 100 tahun terakhir. "Yang penting sekarang mulai bertindak," ujarnya.

Pernyataan Rudd itu terbukti. Baru saja terpilih, Rudd langsung bekerja dan bertemu dengan para pejabat untuk membahas mekanisme penandatanganan Protokol Kyoto mengenai pengurangan emisi gas rumah kaca. Selama ini Howard—seperti AS—tidak mau menandatangani Protokol Kyoto. Rudd tidak hanya membahas masalah itu dengan pejabat Australia, tetapi juga dengan komunitas internasional, seperti Indonesia, Inggris, dan AS. Meningkatkan hubungan dengan AS dan negara-negara di Asia juga menjadi salah satu perhatian Rudd.

Rudd yang bisa berbahasa China dengan fasih diyakini bisa memainkan peran penting menjalin hubungan dengan negara-negara di Asia yang saat ini tengah bangkit. Dengan spesialisasi studi Asia dan pernah menjadi diplomat di Beijing, para pengamat yakin dia akan membuka era baru di dalam hubungan dengan Asia. "Howard itu PM tua yang hidup di dunia yang jauh lebih baru. Gayanya itu sudah ketinggalan zaman. Rudd pasti akan lebih positif dan maju," kata pengamat John Hart.

Kelihaian Rudd berbahasa China itu diyakini akan sangat membantu dalam hubungan Australia dan China. Para pengamat yakin AS akan memanfaatkan kemampuan Rudd ini. "Peran China dalam berbagai persoalan dunia kini berubah. China tidak hanya bangkit perekonomiannya, tetapi juga kini lebih banyak mengambil peran konstruktif dalam menyelesaikan berbagai masalah dunia," kata Hart.

Damien Kingsbury dari Deakin University menyatakan, Rudd juga akan menempuh jalur berbeda dengan Howard. "Sudah jelas sejak dulu Howard merasa kurang nyaman dengan negara-negara di kawasan ini. Menjalin hubungan dengan para pemimpin politik di kawasan ini menjadi kekurangan Howard. Rudd jelas akan nyaman menjalin hubungan dengan para pemimpin di kawasan regional," ujarnya.

Howard malu

Faktanya, rakyat tidak lagi suka dengan Howard (68). Sebagai PM Australia yang menduduki urutan kedua terlama, kekalahan dalam pemilu kali ini menjadi hal yang memalukan. Lebih memalukan lagi bagi Howard jika mengetahui bahwa Howard bahkan kalah di daerah pemilihannya sendiri. Howard yang selama ini "menempel" pada Presiden AS George W Bush itu tak bisa membaca "tanda-tanda" bahwa rakyatnya sudah mulai jenuh kepadanya.

Mantan Dubes Indonesia untuk Australia (1991-1995) Sabam Siagian mengatakan, Indonesia akan diuntungkan dengan kemenangan Rudd. "Masalahnya adalah tinggal bagaimana kita menyerap dan memanfaatkan perhatian Australia yang sudah pasti akan meningkat ke Asia, termasuk ke Indonesia," kata Sabam. (REUTERS/AFP/AP/LUK)

No comments: