Monday, November 26, 2007

Konferensi Annapolis Tak Berguna


Musthafa Abd Rahman


Konferensi damai Timur Tengah di Annapolis, Maryland, AS, dimulai hari Selasa, 27 November. Rencana dan isi konferensi itu lebih maju dari konferensi sebelumnya. Namun, hasilnya diperkirakan akan nihil.

Hampir 50 negara, termasuk Indonesia; serta lembaga regional dan internasional diundang menghadiri konferensi tersebut. Dalam konteks banyaknya peserta, konferensi damai Annapolis seperti sebuah proyek ambisius. Konferensi Annapolis hanya bisa ditandingi konferensi Madrid tahun 1991. Sasaran konferensi Annapolis lebih maju.

Konferensi Madrid hanya menegaskan kerangka dasar, yaitu resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB Nomor 242 dan Nomor 338, yakni soal tanah Palestina dengan imbalan perdamaian. Konferensi Annapolis dibekali perangkat yang lebih lengkap dengan berpijak pada dua resolusi DK PBB itu, dilengkapi dengan mekanisme pelaksanaan yang dituangkan dalam konsep peta perdamaian.

Konsep ini diprakarsai kuartet (AS, PBB, Uni Eropa, dan Rusia) tahun 2002. Sasaran kuartet jelas, yaitu berdirinya dua negara Israel dan Palestina yang berdampingan secara damai.

Tak saling percaya

Konferensi Annapolis didukung dengan solusi yang sempat disepakati pada konferensi Camp David II tahun 2000, yang mencari solusi atas permukiman Yahudi dan kota Jerusalem Timur.

Apakah konferensi Annapolis dijamin sukses? Belum tentu. Kepentingan AS, Israel, dan juga dunia Arab serta regional secara keseluruhan adalah terwujudnya dua negara ideal itu. AS dan Israel melihat berdirinya negara Palestina menjadi sebuah keniscayaan.

Ada beberapa faktor, di antaranya adalah ancaman demografi di mana penduduk Palestina dalam 15 tahun mendatang akan menjadi mayoritas di wilayah Israel dan Palestina sekarang. Pertumbuhan penduduk Palestina sangat tinggi.

Kekuatan militer faksi-faksi seperti Hezbollah, Hamas, dan faksi-faksi Palestina atau Arab lain semakin berkembang. Mereka akan berpikir serius terhadap eksistensi negara Israel.

Faksi-faksi bersenjata di Irak sekarang yang punya pengalaman berperang melawan pasukan AS tidak mustahil mengalihkan sasarannya pada Israel jika masalah Irak nanti sudah selesai. Faksi-faksi Sunni maupun Syiah di Irak sekarang sama-sama dikenal anti-Israel.

Konferensi Annapolis hanya merupakan upaya Israel untuk keluar dari keterpencilannya.

Lalu, apakah negara Palestina yang ideal bisa diwujudkan? Pengganjal dari semua konferensi perdamaian Timur Tengah tetap tidak berubah, yakni tiadanya saling percaya antara Palestina dan Israel.

Juga ada tantangan kubu radikal dari kedua belah pihak. Ketidakmampuan melaksanakan apa yang telah ditandatangani makin kecil. Ini adalah problem klasik, yang membuat proses perdamaian di Timur Tengah selalu terseok-seok.

Kasus tewasnya mendiang PM Yitzhak Rabin pada tahun 1995 oleh tembakan ekstremis Yahudi, misalnya, telah menggagalkan atau membuyarkan harapan-harapan pada kesepakatan Oslo. Seandainya Yitzhak Rabin masih hidup, mungkin jalannya sejarah akan lain.

Ada bukti betapa kubu radikal berandil besar menggagalkan sebuah proses perdamaian.

Harapan kosong

Dalam konteks konferensi Annapolis, di permukaan para pejabat AS, Israel, dan Arab selalu berusaha memberi harapan. Namun, situasi di lapangan sangat berbeda. Harian Israel, Haaretz, Kamis (22/11), membocorkan draf dokumen politik bersama yang gagal dicapai antara perunding Israel dan Palestina.

Dalam draf itu Israel menolak memecah kota Jerusalem dan membahas isu nasib pengungsi Palestina, serta menuntut Palestina mengakui negara Israel sebagai negara Yahudi. Palestina menolak hal itu.

Gagalnya perundingan pendahuluan itu membuat konferensi Annapolis tak berhasil. Lalu, untuk apa lagi berangkat ke Annapolis kalau di belakang sudah berantakan? Itulah yang membuat banyak analis menyebut konferensi damai Annapolis hanya sekadar konsumsi publik untuk memperbaiki citra pemerintahan Presiden AS George W Bush yang akan mengakhiri jabatannya pada tahun 2008.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kessenger di harian Asharq Al-Awsat, Selasa (30/10), mengatakan, konferensi damai Annapolis bisa saja melahirkan kesepakatan. Namun, siapa yang mampu melaksanakannya? Pesimisme Kessenger tidak berlebihan.

No comments: