Wednesday, May 23, 2007

Peluang Islam Politik di Republik Turki Cetak E-mail

Oleh: I ROSYIDIN

Perdana Menteri (PM) Turki Tayyip Erdogan mengajukan sebuah proposal reformasi konstitusi untuk mengatasi kemelut pertikaian kubu Islam dan sekuler di negerinya. Di antaranya,pemilihan presiden tidak lagi dilakukan parlemen, tetapi langsung dipilih rakyat; masa jabatan presiden yang sekarang berjalan hanya satu periode dengan rentang waktu tujuh tahun, diusulkan menjadi lima tahun dan presiden bisa menjabat lagi untuk periode kedua jika kembali terpilih.

Kemudian,parlemen yang biasanya dipilih lima tahun sekali menjadi empat tahun sekali. Pada akhirnya,parlemen Turki pun mengabulkan proposal yang diajukan Erdogan.Di antara 550 anggota parlemen yang hadir,diketahui bahwa sebanyak 356 orang menyatakan setuju, sedangkan 69 orang menolak. Selanjutnya,proposal itu akan dibahas di tingkat parlemen sebelum ditandatangani Presiden Ahmet Necdet Sezer (SINDO Edisi Sore,Selasa,8 Mei 2007).

Dengan pengajuan reformasi konstitusi tersebut,tampaknya pemerintahan Erdogan sebagai representasi dari kubu Islam ingin membawa persoalan politik kepada para pemangku kepentingan (shareholders)yang sesungguhnya,yaitu rakyat.Bukankah dalam sistem demokrasi rakyat adalah pemegang kedaulatan? Tampaknya,ini disadari betul oleh pemerintahan Erdogan.

Sebagaimana diketahui bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) sebagai kendaraan politik Erdogan banyak didukung rakyat pinggiran yang notabene merupakan mayoritas di negeri Turki.Umumnya, mereka masih belum tercerabut dari akar keislamannya betapapun upaya-upaya kubu sekuler untuk memalingkan mereka selama ini.

Maka, kalau pemilihan presiden Turki dilakukan secara langsung,tidaklah sulit bagi Gul untuk memenangkan persaingan menuju kursi presiden. Itulah yang akan menjadi poin unggulan bagi partai AKP dalam pertarungan politiknya dengan para pewaris sekularisme.

Tetapi,kalau dilihat secara lebih cermat,sebenarnya faktor-faktor keunggulan pemerintahan Erdogan terhadap kubu sekuler sebenarnya tidak hanya terletak pada dukungan rakyat pinggiran saja, melainkan ada beberapa hal lain yang, tampaknya,sangat menguntungkan posisinya dalam konstelasi politik Turki dewasa ini.

Pertama, naiknya Erdogan sebagai Perdana Menteri Turki dengan kendaraan partai politik AKP dicapai melalui pemilihan umum yang demokratis.Itu berarti,pemerintahan ini memiliki modal politik yang sangat besar. Memang,dalam sejarahnya, militer Turki pernah mengintervensi politik terhadap Erbakan dengan memaksanya mundur dari arena politik,tetapi tentu saja masa Erbakan dengan Erdogan,meskipun sama-sama berasal dari kubu Islam,banyak memiliki perbedaan dalam beberapa hal.

Kedua,pemerintahan Erdogan telah menorehkan prestasi yang sangat besar di dalam negeri,yakni pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, pemerintahan yang bersih (clean government),dan stabilitas politik yang belum pernah dicapai para kepala pemerintahan sebelumnya.

Ketiga,Erdogan juga banyak melakukan reformasi di dalam negeri. Salah satunya dalam sistem ekonomi Turki.Erdogan misalnya,melakukan liberalisasi ekonomi Turki yang sebelumnya lebih bersifat tertutup serta mendorong investasi-investasi besar dari dalam dan luar negeri dengan memberikan jaminan yang memuaskan kepada para investor.

Keempat, Erdogan mendukung bergabungnya Turki ke Uni Eropa dengan arsitek utamanya,Abdullah Gul sendiri,orang yang didominasikan menjadi presiden Turki.

Sementara itu, Presiden Turki sekarang,Ahmet Necdet Sezer,yang merupakan representasi dari kubu sekuler justru dikenal sebagai tokoh yang tidak mendukung bergabungnya Turki ke Uni Eropa dengan berlindung di balik nasionalisme Turki. Langkah Erdogan yang menunjukkan sisi keliberalan itu tentu sangat menguntungkannya karena banyak warga Turki yang menginginkan negaranya menjadi bagian dari Eropa.

Kelima,di mata dunia internasional, khususnya Barat,pemerintahan Erdogan memiliki kredibilitas yang cukup tinggi karena kecocokannya dalam berbagai hal.Itu disebabkan antara lain oleh performance keislaman yang ditampilkan pemerintahan Erdogan lebih menampakkan wajah moderat dan akomodatif.Erdogan tidak pernah menyuarakan tuntutan-tuntutan yang bersifat radikal seperti mengubah kebijakan-kebijakan sekuler dengan kebijakan Islam.

Erdogan hanya mengusung satu agenda keislaman, yaitu memberikan hak bagi kaum perempuan untuk mengenakan jilbab, baik dalam kehidupan umum maupun resmi.Sesungguhnya,di negara-negara Barat sekuler yang menjunjung tinggi kebebasan,pemakaian jilbab itu tidaklah banyak dipersoalkan. Kredibilitas internasionalnya juga ditunjang kepiawaian Erdogan dalam memainkan peran politiknya di tengah konflik-konflik besar di Timur Tengah, yakni Irak,Iran dan Palestina sehingga membuatnya semakin dihargai masyarakat internasional,tak terkecuali Amerika Serikat (AS).

Posisi Turki yang strategis di antara Benua Asia dan Eropa tentu sangat menguntungkan. Dalam penyerangan AS ke Irak untuk menggulingkan Saddam Husein, misalnya,pada awalnya Erdogan menolak memberikan andil dalam bentuk apa pun –ini didukung oleh parlemen Turki yang memang dikuasai partainya– meski dia mengizinkan pangkalan militer dan bandara di Turki digunakan tentara-tentara sekutu pimpinan AS.

AS sempat berang ketika Erdogan menolak ambil bagian,tetapi kemudian AS menyadari bahwa Erdogan merupakan pilihan yang sangat penting,terutama dalam strategi politiknya di kawasan ini.Artinya,tanpa kehadiran Erdogan di kawasan ini,AS juga akan kesulitan menemukan orang yang tepat untuk mendapatkan akses ke wilayah Irak.

Sementara itu,bagi Erdogan sendiri, dengan tidak serta-merta menyetujui permintaan AS,dia mendapatkan kredit poin dari negara-negara Arab dan Islam yang anti-AS. Dalam konflik Palestina-Israel, meskipun Turki mempunyai hubungan diplomatik yang sudah terjalin sangat lama dengan Israel dan tidak dibekukan pada masa Erdogan,hubungan politik bahkan militer selama pemerintahan Erdogan,tampaknya mendingin.

Sebab,Erdogan justru kerap menyuarakan seruan diakhirinya pendudukan Israel di tanah Palestina dan diberikannya kepada bangsa Palestina hak-hak mereka yang sah serta dukungannya terhadap inisiatif Arab untuk perdamaian.Tentu saja, kenyataan ini membuat kredibilitas Turki di bawah pemerintahan Erdogan sangat tinggi di mata umat Islam.

Dengan dikabulkannya proposal Erdogan dan beberapa keunggulan yang dimiliki pemerintahannya, peluang kubu Islam untuk menguasai pemerintahan Turki,baik pada kursi Perdana Menteri maupun Presiden, agaknya sangat besar.

Meskipun banyak pihak menilai bahwa Presiden Turki sekarang yang berasal dari kubu sekuler tidak akan segera menandatangani reformasi konstitusi tersebut, paling tidak ini merupakan kemajuan penting dan kemenangan awal bagi kubu Islam yang,tampaknya,tidak mudah dibendung.Wallahu a’lam. (*)

I ROSYIDIN
Dosen Ilmu Politik di FSH UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

No comments: