Thursday, January 31, 2008

Antara Hillary dan Obama


Kamis, 31 januari 2008 | 01:47 WIB

I Basis Susilo

Hillary Clinton dan Barack Obama bersaing ketat memenangi tiket calon presiden dari Partai Demokrat untuk pemilihan presiden November nanti. Dari pemilihan awal di empat negara bagian, Hillary menang di New Hampshire dan Nevada, Obama menang di Iowa dan South Carolina. Selain dua calon kuat itu, masih ada John Edwards.

Pemilu awal serentak di 22 negara bagian pada 5 Februari, dikenal sebagai Super Tuesday, menjadi ujian terbesar bagi Hillary dan Obama. Super Tuesday tidak hanya melibatkan banyak negara bagian, tetapi juga negara-negara bagian padat penduduk, seperti California, New York, Illinois, New Jersey, dan Massachussets.

Masih tanda tanya, siapa yang bakal menang dalam Super Tuesday. Berbagai jajak pendapat meramalkan Hillary bakal menang. Ia juga mendapat dukungan (endorsement) dari beberapa tokoh, seperti Kathleen Kennedy Townsend, dan dari beberapa koran, termasuk New York Times. Tetapi, Obama dapat dukungan lebih hebat, yaitu dari Senator Edward (Ted) M Kennedy dan Caroline, putri John F Kennedy, dua ikon dinasti Kennedy, dan dari John Kerry. Yang paling dahsyat adalah dukungan dari Oprah Winfrey, selebritis terkenal, suka beramal, dan dicintai banyak orang Amerika.

Faktor Edward

Kini masyarakat menunggu mantan Wakil Presiden Al Gore. Berbagai endorsement dari tokoh penting itu bisa membuat jajak pendapat dinamis dan memengaruhi hasil akhir pemilu awal Super Tuesday itu.

Soal lain adalah faktor Edwards, orang ketiga. Apakah Edwards menguntungkan Hillary atau Obama? Bila selama ini Edwards menggerogoti suara Hillary sehingga kalah, Obama tentu kurang kuat untuk menghadapi calon presiden Republik karena untuk menang November nanti diperlukan calon yang bisa menarik suara dari arus utama (mainstream).

Hillary dan Obama tentu berjuang menjadi finalis. Tetapi, hanya satu yang menjadi finalis. Untuk itu, mereka bisa saling menyerang atau saling tidak menegur. Bila yang terjadi adalah kampanye negatif dan pertikaian antarpribadi, itu merugikan keduanya maupun Partai Demokrat dalam memenangi pemilu presiden karena salah satu alternatif strategi untuk menang adalah memasangkan calon presiden-wapres: Hillary-Obama atau Obama-Hillary.

Dalam sejarah di AS, mereka yang bersaing pada pemilu awal tentu mengantongi nama calon wakil presiden yang diumumkan pada saatnya. Obama juga pernah bilang Oprah Winfrey sebagai ”calon wakil presiden”. Di AS, jarang ada pasangan yang berasal dari mereka yang bersaing dalam rangkaian pemilu awal. Namun, jarang bukan berarti tidak pernah ada. Pada 1980, Ronald Reagan mengambil George H Bush sebagai pasangannya, kendati Bush adalah pesaingnya dalam pemilu awal Republik. Pada 1992, Bill Clinton memilih Al Gore, pesaingnya, menjadi pasangan.

Pasangan Hillary-Obama

Memasangkan Hillary-Obama sebagai calon presiden-wapres menjadi strategis bagi Demokrat karena empat hal.

Pertama, berbagai perkembangan kini memihak Demokrat. Di bawah Bush, AS tidak punya diplomasi karena prinsip ”siapa yang tidak dengan kita adalah musuh kita”. AS juga menjalankan unilateralisme sehingga ada di luar komunitas internasional. Dipimpin Demokrat, apalagi kalau Obama yang terpilih, AS akan segera mundur dari Irak dan kembali bergabung dengan komunitas internasional.

Kedua, pemilihan awal tidak serta-merta menjadi modal kuat bagi pemilu presiden karena dalam spektrum nasional, episentrum pemilu awal beda dari pemilu presiden. Untuk Demokrat, episentrum pemilu awal ada di kiri pada spektrum politik. Artinya, semakin ke kiri isu dan posisi yang diambil akan semakin menarik pemilih di primaries atau caucus. Sementara untuk Republik, episentrum pemilu awal ada di kanan. Sementara episentrum pemilihan presiden November nanti ada di tengah sehingga calon harus menempatkan posisi isu dan dirinya ke mainstream Amerika.

Meski sama-sama berangkat dari kiri, posisi Hillary tampaknya berada lebih kanan daripada Obama sehingga Hillary lebih mudah diterima mainstream. Namun, Hillary maupun Obama secara sendiri-sendiri tidak begitu menguntungkan untuk bersaing memperebutkan mainstream. Sedangkan bila bersama-sama, mereka bisa menjadi kekuatan cukup untuk menarik suara mainstream.

Ketiga, dalam hal mainstream, keniscayaan ciri khas demografis White, Anglo Saxon, and Protestant (WASP), latar belakang karier eksekutif, dan lelaki masih berpengaruh. Hillary dan Obama bukan eksekutif. WASP, eksekutif, dan lelaki menjadi ”hukum besi” mainstream. Namun, dalam politik segalanya bisa terjadi. Dalam politik, ”hukum besi” bukan sesuatu yang mutlak. Buktinya pada 1960, John F Kennedy yang bukan penganut Protestan bisa menang dan menjadi presiden.

Bila Hillary atau Obama akhirnya menjadi presiden, mereka akan memecahkan rekor presiden AS. Hillary presiden perempuan pertama, Obama presiden kulit hitam pertama. Namun, sekali lagi, baik Hillary maupun Obama, bila sendirian, tidak cukup kuat untuk menjinakkan mainstream itu.

Keempat, keduanya punya kelemahan dan kekuatan. Kelemahan mereka, misalnya, Hillary harus mendobrak dominasi laki-laki dan Obama harus mendobrak dominasi kulit putih. Mereka bukan berasal dari kalangan eksekutif. Hillary tidak muda lagi dan terganggu keikutsertaan kampanye Bill Clinton. Sementara Obama mampu menggugah harapan untuk perubahan, tetapi belum punya bukti dan pengalaman menyelesaikan masalah-masalah nyata. Mereka kurang beruntung jika harus sendirian menghadapi mainstream.

Semangat perubahan

Kekuatan mereka, Obama muda, mampu menginspirasi masyarakat dengan semangat perubahannya. Kemampuan Obama dalam hal ini seperti John F Kennedy dan Martin Luther King Jr. Ia mampu menarik suara kalangan kulit hitam. Sementara Hillary pintar, berpengalaman, tegas, bahkan NewYork Times menyatakan Hillary sebagai ”komandan yang kuat”. Hillary juga mampu menarik suara kaum perempuan. Pasangan keduanya akan mampu menarik suara, baik dari pemilih perempuan maupun kulit hitam.

Kekuatan masing-masing bisa menutupi kelemahan mereka. Keduanya ideal bersinergi untuk menciptakan sejarah baru presiden AS.

I BASIS SUSILO Dekan FISIP Universitas Airlangga; Pendapat Pribadi


komentar

No comments: