Saturday, October 20, 2007

APBN 2007 Aman, 2008 Kritis


Pengusaha Cemas Pertamina Naikkan Harga Minyak

Jakarta, Kompas - Meski harga minyak mentah 100 dollar AS per barrel hingga akhir tahun, pemerintah diperkirakan masih dapat menanggung beban itu selama produksi minyak tidak turun di bawah satu juta barrel per hari. Tetapi, tanpa upaya peningkatan produksi dan harga tetap tinggi, kerepotan bakal muncul tahun 2008.

Kalau harga minyak mentah bertahan rata-rata 85 dollar AS per barrel sampai akhir tahun, dengan asumsi produksi (lifting) minyak mentah pada kisaran 1,025 juta barrel per hari, APBN 2007 diperkirakan tekor bersih hanya Rp 5 triliun.

Perhitungan itu dikemukakan Anggota Komisi XI DPR yang membidangi perbankan dan keuangan, Dradjad H Wibowo, Kamis (18/10) di Jakarta.

"Kalau defisit bertambah Rp 5 triliun, pemerintah masih bisa mengatasinya dengan memotong belanja barang seperti yang dilakukan saat ini. Ada asumsi kalau belanja barang pemerintah dikurangi akan melambatkan pertumbuhan ekonomi. Saya tidak yakin itu karena kontribusi belanja barang pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi kecil," katanya.

Akan tetapi, dia mengakui perhitungannya itu bisa meleset. Persoalan saat ini adalah lifting minyak mentah terus-terusan menurun sejak tahun 2001, dan saat ini saat ini lifting di bawah satu juta barrel per hari. Jika lifting lebih rendah dari satu juta barrel, menurut Dradjad, tekor bersih APBN makin besar, karena ada bagi hasil dengan daerah.

Menurut hitungan dia, jika lifting minyak mentah 1,025 juta - 1,040 juta barrel per hari dengan asumsi harga minyak internasional berada dalam rentang 60 sampai 90 dollar AS per barrel pun, APBN masih impas. Tekor bersih APBN semakin besar jika volume lifting minyak jatuh dan harga semakin melonjak.

"Dengan asumsi lifting minyak mentah di bawah satu juta barrel per hari, sementara harga internasional 75-80 dolllar, APBN 2008 akan terguncang karena tekornya Rp 35 triliun," katanya.

Naik Rp 10 Triliun

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM diingatkan untuk berupaya keras mencapai produksi minyak sesuai APBN Perubahan 2007 sebesar 0,950 juta barrel per hari.

Setiap penurunan produksi minyak 50.000 barrel per hari hingga akhir 2007 akan menambah beban berupa pembengkakan defisit APBN Rp 10 triliun.

"Itu hasil perhitungan yang kami analisis di Bappenas terkait dampak kenaikan harga minyak saat ini. Kenaikan Rp 10 triliun itu setara 0,25 persen Produk Domestik Bruto (PDB)," ujar Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Paskah Suzetta.

Menurut Paskah, jika target produksi minyak di APBN-P 2007 bisa tercapai, dampak kenaikan harga minyak sampai 88 dollar AS terhadap anggaran pemerintah menjadi netral. "Artinya, kenaikan harga minyak tersebut akan menambah belanja pembelian minyak impor sama besar dengan kenaikan penerimaan negara dari Pajak Penghasilan minyak dan gas (migas) serta Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas.

Paskah menegaskan, dengan kondisi itu, Menteri ESDM harus berupaya keras agar target produksi itu tercapai. "Sekarang kembali ke Pak Purnomo (Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro). Beliau harus berupaya mencapai target itu," ujar Paskah.

Sebelumnya, harga minyak mencapai puncak barunya mencapai 88 dollar AS per barrel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN-P 2007 sebesar rata-rata 60 dollar AS per barrel.

BBM Industri Naik

Seiring melonjaknya harga minyak mentah, harga bahan bakar minyak (BBM) untuk industri pada November 2007 dipastikan naik. Kondisi itu bakal memberatkan dunia usaha.

Tahun depan pengusaha harus mengeluarkan dana untuk membayar UMR (Upah Minimum Regional). Berdasar laporan sementara dari berbagai daerah di Indonesia, UMR tahun 2008 diperkirakan naik hingga di atas 15 persen dari tahun lalu.

"Jika beban pembayaran UMR ditambah lagi dengan kenaikan BBM , industri jelas menanggung beban berat. Belum lagi jika PLN merevisi tarif listrik," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono.

Ambar berharap pemerintah memberikan perhatian kepada industri dalam negeri yang selama ini menurut dia tidak dianggap sebagai mitra. Padahal industri padat karya berperan besar mengatasi pengangguran karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

"Di industri mebel dan kerajinan setidaknya terdapat 9 juta orang yang menggantungkan hidupnya. Pemerintah harus memikirkan nasib jutaan orang ini. Kalau tidak ingin melihat industri padat karya gulung tikar maka harus disubsidi," kata Ambar.

Berdasar data Pertamina harga BBM industri selama Januari-Oktober 2007 di antaranya premium, minyak tanah, solar, minyak diesel dan minyak bakar, setiap bulannya tercatat mengalami fluktuasi cukup signifikan. Fluktuasi terhadap produk BBM tersebut berkorelasi dengan harga minyak mentah dunia.

Sebagai gambaran, per 1 Oktober lalu BBM industri jenis premium naik 5,2 %, minyak tanah naik 5,1 %, minyak solar naik 5,6%, minyak diesel naik 6,5% dan minyak bakar naik 2,7%. Menurut Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya, kenaikan harga minyak mentah dunia b yang mencapai 80 dollar AS per barel menjadi faktor kunci besaran kenaikan harga BBM industri tersebut.

Sementara itu pada bulan September, BBM jenis premium turun 7,4 %, minyak tanah naik 0,9%, minyak solar naik 1,1%, minyak diesel naik 1,2% dan minyak bakar naik 2,8%. Pda bulan Agustus harga minyak mentah dunia berada di level 70 dollar AS per barel.

Hanung Budya yang dihubungi dari Jakarta mengatakan, saat ini penghitungan kenaikan harga BBM industri belum dapat dilakukan karena bulan Oktober masih berjalan sehingga rata-rata Mid Oil Platts Singapore (MOPS) yang menjadi patokan belum diketahui. "Kita masih akan mengikuti harga pasar. Penetapannya dilakukan sesuai mekanisme setiap bulan," kata Hanung.

Kepala Divisi Pemasaran BBM Pertamina, Djaelani Sutomo mengatakan, perhitungan kenaikan harga BBM industri baru akan dilakukan Senin pekan depan setelah kegiatan operasional Pertamina kembali aktif. (DOE)

Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal memperkirakan kenaikan harga BBM industri bulan depan kurang dari 10 persen. Ia menegaskan bahwa tidak benar Pertamina akan mempercepat penetapan harga BBM industri baru. Harga BBM tetap akan berlaku 1 Novermber. "Kami masih menghitung besarnya kenaikan, untuk melihat kecenderungan harga. Tapi perkiraannya akan di bawah 10 persen," kata Faisal.

Ia menambahkan harga produk BBM yang diimpor Pertamina bulan depan bisa mencapai 100 dollar AS per barrel. Menurut Faisal, ada sejumlah kontrak yang dalam klausulnya menetapkan penyesuaian harga dengan kondisi pasar. Sebagian besar impor BBM Pertamina dengan suplier dilakukan dengan kontrak. Impor dari pasar spot dilakukan ketika ada kebutuhan BBM mendadak. Bulan November nanti, Pertamina harus menambah impor minyak solar sebanyak 1,2 juta barrel dari biasanya yang sekitar 6 juta barrel. Tambahan impor itu diperlukan untuk menutup kekurangan produksi di dalam negeri karena adanya pemeliharaan di kilang Dumai. Kilang berhenti operasi selama 30 hari.

Meskipun harga minyak cenderung semakin tinggi, Pertamina mengaku kesulitan jika mengikat kontrak impor bbm dengan sistem hedging (harga tetap). "Ya kalau giliran harganya turun kan kita yang rugi, sementara kalau mengandalkan pemasukan dari marjin saja sudah tidak bisa menutup ongkos distribusi di wilayah Indonesia Timur," kata Faisal. (DIS/OIN/DOE/DOT)

No comments: