Saturday, October 6, 2007

Calon Peraih Nobel Perdamaian

Para Pejuang Lingkungan Favorit Menang

Penentuan peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2007 baru dilakukan pada 12 Oktober nanti. Sejauh ini ada 181 nama calon yang masuk ke panitia Nobel di Oslo, Norwegia. Mantan Wakil Presiden AS Al Gore dan para pejuang lingkungan menentang perubahan iklim menjadi favorit kuat meraih penghargaan bergengsi ini.

Harus diakui, Nobel Perdamaian selama ini hanya untuk negarawan, pejuang perdamaian, dan aktivis hak asasi manusia (HAM). Apabila seorang pejuang melawan pemanasan global memperoleh Nobel Perdamaian tahun ini, jelas ada pergeseran penilaian keluar dari upaya perdamaian tradisional. Kini lebih melihat hubungan antara perdamaian dan lingkungan.

Pergeseran ini terlihat dari pencalonan Gore, mantan Wapres di era Presiden Bill Clinton. Gore bahkan favorit karena telah meningkatkan kesadaran soal ancaman pemanasan global dengan buku dan film dokumenternya, An Inconvenient Truth. Film ini meraih Oscar.

Aktivis Inuit Kanada, Sheila Watt-Cloutier, yang mengungkapkan bagaimana pemanasan global memengaruhi orang- orang Artik, juga masuk nominasi. Gore dan Sheila dicalonkan dua anggota parlemen Norwegia.

"Saya rasa mereka berpeluang besar jadi pemenang tahun ini," kata Stein Toennesson, Direktur Lembaga Riset Perdamaian Internasional (PRIO), Oslo. Toennessson juga pengamat Hadiah Nobel Perdamaian sejak lama.

"Jelas menarik bagi komite (Nobel) untuk mendapatkan dua orang Amerika Utara—yang seorang aktivis yang melambangkan perjuangan melawan perubahan iklim, meningkatkan kesadaran, dan yang lain yang mewakili sebagian korban perubahan iklim," ujarnya.

Jan Egeland, Ketua Lembaga Urusan Internasional Norwegia, sepakat komite Nobel dapat menetapkan hubungan antara perdamaian dan lingkungan. "Saya rasa seluruh isu perubahan iklim dan lingkungan akan muncul pada satu titik dan tercermin dalam Hadiah Nobel itu," ujarnya kepada wartawan pekan lalu. "Telah terjadi perang iklim ... dan daerah terburuk untuk itu adalah sabuk Sahel di Afrika."

Sebenarnya sudah ada pergeseran untuk menghargai karya dari bidang di luar upaya perdamaian konvensional dan HAM.

Tahun 2004, tokoh lingkungan Kenya, Wangari Maathai, memenangi Hadiah Nobel atas upayanya mendorong kaum perempuan menanam pohon di seluruh Afrika. Tahun lalu, Hadiah Nobel Perdamaian diberikan kepada ahli ekonomi Banglades, Muhammad Yunus dan Bank Grameen-nya, atas upaya mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan melalui kredit kecil.

Toennesson mengatakan, para calon yang juga favorit menang antara lain mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari untuk karya mediasi perdamaian. Begitu juga dengan biksu pembangkang Vietnam, Thich Quang Do, dalam upaya prodemokrasi.

Calon kuat lainnya adalah pengacara HAM Rusia, Lidiya Yusupova, yang berjuang bagi para korban perang di Chechnya. Demikian pula Rebiya Kadeer, seorang pembela etnis minoritas Uighur di China.

Komite Nobel Norwegia yang beranggotakan lima orang tidak mengungkapkan nama-nama calon. Mereka yang mengajukan calon yang aktif mengumumkan kandidat mereka. Pemenang Nobel akan meraih hadiah uang 1,5 juta dollar AS.

Toenesson mengatakan, dengan memberi hadiah itu kepada mereka yang berjuang melawan perubahan iklim, komite akan masuk debat publik mendahului konferensi iklim PBB di Bali bulan Desember.

Dia merasa Al Gore menjadi pemenang. "Dia melakukan karya yang luar biasa menciptakan kesadaran mengenai isu itu dan telah menjadi pejuang," katanya.

Sementara Watt-Cloutier mengatakan merasa tersanjung masuk nominasi. Namun, dia tak mengharapkan menjadi pemenang. (Reuters/DI)

No comments: