Saturday, December 29, 2007

Demokrasi Harus Bertahan



Perang Melawan Teror Mesti Ditingkatkan


Tokyo, Jumat - Masyarakat dunia meminta agar demokrasi di Pakistan terus dipertahankan pascapembunuhan atas mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto, Kamis (27/12). Pembunuhan itu dinilai sebagai serangan atas demokrasi sehingga Pakistan harus menunjukkan bahwa demokrasi bisa dipertahankan.

Banyak tokoh dunia, Jumat (28/12), juga mengingatkan bahwa perang melawan teror belum selesai dan harus makin ditingkatkan.

"Jepang akan melakukan semua upaya untuk terus membantu demokratisasi, rekonstruksi, dan kemakmuran di negara (Pakistan) itu. Saya harap pemerintah dan rakyat Pakistan bisa mengatasi masa-masa sulit ini dan dengan teguh menempuh jalan menuju demokratisasi," ungkap juru bicara Pemerintah Jepang, Nobutaka Machimura, Jumat.

Jepang merupakan salah satu donor terbesar bagi Pakistan yang merupakan lini terdepan dalam "perang melawan teror". Pemerintah Jepang telah mempertimbangkan untuk meningkatkan bantuan kepada Pakistan dan Afganistan untuk mendukung "perang melawan teror", setelah rakyat Jepang menolak misi bantuan Angkatan Laut Jepang di Afganistan.

Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo mengutuk pembunuhan atas Bhutto sebagai serangan atas demokrasi. Ungkapan senada disampaikan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, Pemerintah Spanyol, dan Komisi Eropa.

Sementara Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi menekankan, ekstremisme dan kekerasan tidak bisa diterima dan tidak boleh ditoleransi. Namun, rakyat Pakistan juga diminta untuk tetap tenang di tengah maraknya kekerasan pascapembunuhan Bhutto.

Bahaya bersama

Perdana Menteri India Manmohan Singh, yang segera menyiagakan pasukannya di perbatasan dengan Pakistan karena mengkhawatirkan melubernya dampak kekerasan di Pakistan ke wilayah India, kemarin menegaskan, pembunuhan Bhutto merupakan peringatan atas adanya "bahaya bersama" yang dihadapi India dan Pakistan.

Kanselir Jerman Angela Merkel maupun Pemerintah Turki meyakini pembunuhan itu ditujukan untuk menimbulkan ketidakstabilan di Pakistan.

Presiden Rusia Vladimir Putin berharap para pelaku kejahatan itu bisa ditemukan dan mereka mendapatkan hukuman yang sepantasnya.

Iran juga mendesak Pemerintah Pakistan untuk melacak para teroris yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Sedangkan Presiden Irak Jalal Talabani mengajak dunia bersatu melawan "kanker terorisme".

Amerika Serikat secara khusus kemarin mengimbau Pakistan agar tetap tenang dan mendesak Pemerintah Pakistan meneruskan pemilihan umum.

Presiden AS George W Bush meminta rakyat Pakistan untuk menghormati kenangan atas Benazir Bhutto, dengan meneruskan proses demokrasi yang diperjuangkannya dengan sangat berani dan seluruh hidupnya.

"Kami berdiri bersama rakyat Pakistan dalam perjuangan melawan kekuatan-kekuatan teror dan ekstremisme," papar Bush, yang tengah menikmati liburan akhir tahun di kawasan peternakannya di Texas.

Bush, yang telah menelepon langsung Presiden Pakistan Pervez Musharraf, maupun Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice yang menelepon suami Benazir, Asif Ali Zardari, dan pengganti Bhutto di Partai Rakyat Pakistan (PPP) Amin Fahim, mendesak agar waktu pemilihan umum tanggal 8 Januari 2008 tetap dipertahankan dan PPP-pun diminta berpartisipasi pada pemilihan umum tersebut.

Media-media massa di Inggris pun ramai-ramai menyuarakan agar kematian Bhutto tidak mengubah proses demokrasi pemilihan umum di Pakistan.

"Rentannya harapan Pakistan atas demokrasi mungkin sudah mati kemarin. Tetapi, cita-cita Bhutto sekarang harus dibangkitkan lagi demi masa depan negara tercintanya dan dunia yang lebih luas," kata tabloid The Sun.

The Times juga mendorong perbaikan demokrasi dilakukan secepatnya sebagai peninggalan terakhir Bhutto. (AP/AFP/OKI)

No comments: