Saturday, December 22, 2007

Lee Myung-bak, Presiden Korsel


Akan Utamakan Ekonomi dan Pertumbuhan Iklim Investasi


Seoul, Kamis - Lee Myung-bak yang akhirnya dipilih rakyat Korea Selatan sebagai presiden baru negara itu, Kamis (20/12), berjanji akan mendahulukan ekonomi dengan menumbuhkan iklim investasi yang sehat di negara itu. Mantan pemimpin eksekutif Hyundai itu adalah presiden pertama Korsel dari kalangan bisnis.

Pada pemungutan suara yang dilaksanakan Rabu (9/12), Lee Myung-bak, yang dicalonkan Partai Agung Nasional (GNP), mendapatkan dukungan lebih dari setengah seluruh pemberi suara. Dia mengungguli dua calon lainnya, Chung Dong-young dari Partai Persatuan Demokrat Baru yang mendapatkan 27 persen dukungan, dan calon independen Lee Hoi-chang yang mendapatkan 15 persen dukungan.

Lee Myung-bak (66), yang pernah menjadi Wali Kota Seoul, akan menggantikan presiden saat ini, Roh Moo-hyun. Semasa berkampanye, dia menjanjikan pemotongan pajak, pendapatan per kapita naik dua kali lipat, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang saat ini 4 persen menjadi 7 persen per tahun.

"Rakyat memilih pragmatisme ketimbang ideologi," ungkap presiden terpilih dari konservatif itu dalam jumpa pers pertamanya.

Korsel saat ini berjuang mengatasi angka pengangguran generasi mudanya yang tinggi, kesenjangan pendapatan yang semakin melebar, dan melangitnya harga-harga rumah.

"Saya akan memperkuat kepercayaan publik kepada pemerintah melalui efisiensi dan reformasi," tambahnya sambil menjanjikan atmosfer yang lebih bersahabat kepada pebisnis untuk mendorong investasi.

Lee menghindar dari isu yang membayangi transisi ke pemerintahannya, yaitu keputusan parlemen yang memerintahkan penyelidikan atas dugaan keterkaitannya dengan kasus penipuan saham pada tahun 2001. Akan tetapi, saat berkomentar pada kesempatan lainnya, dia mengungkapkan keyakinannya akan bebas dari tuduhan keterlibatan.

Antipebisnis

Menurut Lee, perusahaan-perusahaan selama ini dilemahkan oleh sentimen-sentimen antipasar dan antipebisnis yang diterapkan pemerintahan Presiden Roh Moo-hyun.

"Ketika saya dilantik, iklim investasi untuk para pebisnis akan sepenuhnya berubah," tegasnya sambil menyampaikan rencananya untuk segera bertemu dengan para tokoh-tokoh bisnis dan investor-investor asing.

Lee secara resmi akan melaksanakan tugasnya sebagai presiden pada 25 Februari 2008. Dia berjanji akan menerapkan pendekatan pragmatis dan tidak berpihak dalam menghadapi Korea Utara (Korut). Dia mendorong negara komunis yang miskin itu untuk melucuti semua program senjata nuklirnya dengan imbalan bantuan ekonomi dari Seoul.

"Tentu saja saya akan membuka sebuah era yang damai, bebas nuklir di Semenanjung Korea. Korea Utara bisa melanjutkan jalan menuju pembangunan dengan menyerahkan seluruh fasilitas nuklirnya," kata Lee, yang juga meminta Korut meningkatkan catatan hak asasi manusia.

Presiden baru Korsel itu menganggap kritik harus menjadi sesuatu yang biasa dalam hubungan antar-Korea. "Kepedulian terhadap kritik bahkan akan membuat masyarakat Korea Utara lebih sehat," ungkapnya.

Dia berjanji, Korsel akan berperan lebih aktif pada perundingan enam pihak dan sesegera mungkin mewujudkan berbagai program antara kedua Korea.

Penyelidikan baru

Terkait tuduhan dugaan keterlibatan Lee dalam kasus penipuan, partai presiden terpilih itu sebelumnya telah mendesak Presiden Roh untuk memveto undang-undang mengenai pembentukan sebuah tim penyelidik penipuan yang dipimpin seorang jaksa penuntut independen.

"Ini adalah politik kelas rendah untuk menggali seorang presiden terpilih melalui dewan independen," ujar Presiden GNP, Kang Jae-sup, kepada sebuah program radio.

"Bukankah lebih baik bagi presiden yang akan turun, Roh Moo-hyun, untuk memveto undang-undang seperti itu, demi kepentingan persatuan nasional," tambah pemimpin GNP itu.

Jaksa penuntut negara, bulan ini, menyatakan Lee bebas dari tuduhan keterlibatan dalam kasus penipuan pada 2001 itu, yang melibatkan mitra bisnis Lee. Akan tetapi, bukti video yang baru dimunculkan, Minggu (16/12), mengaitkan kembali hubungan masa lalu Lee dengan sebuah firma yang terlibat dalam skandal tersebut sehingga parlemen meminta perlu penyelidikan baru.

Segera setelah diumumkan sebagai pemenang, Lee bertemu dengan duta besar Jepang dan duta besar AS di Korsel.

Jepang dan AS menyambut baik terpilihnya Lee dan berharap presiden baru Korsel itu akan lebih tegas terhadap Korut, setelah satu dekade pemerintahan liberal di Korsel. Keduanya juga berharap hubungan dengan Korsel akan lebih baik.

"Hubungan Korea Selatan-AS dalam lima tahun terakhir tidak sepenuhnya buruk, tetapi masih kurang saling memercayai antara keduanya," paparnya kepada Dubes AS di Korea Selatan, Alexander Vershbow, seperti dikutip penasihat Lee, Yim Sung-bin.

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda juga menyambut baik terpilihnya Lee melalui pemilihan umum yang telah berjalan relatif lancar. RI berharap terpilihnya Lee bisa meningkatkan hubungan bilateral di segala bidang dan memberikan isi dari kemitraan strategis yang disepakati kedua negara beberapa tahun lalu. (AFP/Reuters/OKI)

No comments: