Monday, July 23, 2007

Turki Gelar Pemilu Parlemen
Perpecahan Antarpendukung Sekularisme dan Agama Semakin Dalam

Istanbul, Minggu - Lebih dari 42 juta rakyat Turki memberikan suara, Minggu (22/7), untuk memilih anggota parlemen. Pemilu tersebut digelar lebih awal guna mengakhiri krisis politik antara pemerintah dan parlemen yang berulang kali menolak calon presiden yang ditunjuk partai berkuasa.

Sebanyak 14 partai dan sekitar 700 calon independen bertarung untuk memperoleh kursi di parlemen yang beranggotakan 550 orang. Sebanyak 160.000 tempat pemungutan suara dibuka di 32 provinsi.

Surat kabar dan televisi menampilkan gambar pantai-pantai yang kosong. Rakyat Turki rela meninggalkan liburan mereka di hari Minggu untuk memberikan suara.

"Ini pemilu yang sangat penting. Kami ingin Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) tetap berkuasa. Mereka melakukan hal bagus untuk Turki. Sebelumnya, segala sesuatu buruk bagi perekonomian," kata Rasim Ipek, warga Istanbul.

Jajak pendapat menunjukkan, AKP, partai pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, akan memenangi pemilu dengan perolehan 40 persen suara. Namun, perolehan suara kubu nasionalis (Partai Rakyat Republik/CHP) dan sekularis (Partai Pergerakan Nasionalis/MHP) yang beroposisi akan memotong jumlah perolehan suara AKP yang saat ini memegang mayoritas 352 kursi di parlemen.

Erdogan terpaksa menggelar pemilu dini, yang seharusnya diadakan pada November, setelah para pendukung sekularisme, termasuk angkatan bersenjata, menghentikan upayanya menunjuk sekutu dekatnya, Menteri Luar Negeri Abdullah Gul, sebagai presiden.

Kubu sekularis menuding AKP, partai bernapaskan Islam, memiliki agenda tersembunyi untuk meningkatkan peran agama dalam semua sektor kehidupan. Mereka mengatakan, seorang presiden dari AKP akan merusak pemisahan negara dan agama yang telah menjadi tradisi Turki selama ini.

Pendukung sekularisme mengatakan, kebebasan pribadi, seperti hak meminum alkohol dan pilihan pakaian bagi perempuan, berada dalam bahaya. "Pemerintahan ini mencoba untuk menghancurkan beberapa fondasi Turki. Ini bukan negara religius," kata Ayse Akpinar, pendukung sekularisme.

AKP membantah tudingan bahwa partai tersebut tidak memiliki komitmen terhadap tradisi sekuler Turki. AKP menyatakan telah meninggalkan segala bentuk radikalisme.

Untuk melawan tudingan itu, Erdogan lebih banyak berkampanye tentang prestasi di bidang ekonomi yang dicapai sejak AKP memimpin pemerintahan pada 2002. Di bawah AKP, Turki mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi, angka inflasi relatif rendah, dan mencatat peningkatan investasi asing.

AKP juga mengadakan pembicaraan untuk menjadi anggota Uni Eropa. Erdogan juga menjanjikan perluasan hak individu, mengusulkan undang-undang sipil yang baru, dan menerapkan kebijakan untuk mengurangi tingginya angka pengangguran.

Konfrontasi

Para pengamat memperingatkan, perpecahan dalam tubuh parlemen semacam itu bisa membawa konfrontasi baru tentang sekularisme. Konfrontasi itu akan muncul saat parlemen baru memilih presiden baru.

Jabatan presiden sebenarnya hanya seremonial belaka, tetapi dia memiliki kekuasaan untuk memveto keputusan parlemen dan penunjukan pemerintah.

Erdogan mengatakan akan mengupayakan kompromi dengan partai lain dalam pemilihan presiden. Namun, dia bersikeras bahwa calon presiden harus berasal dari AKP.

Militer telah menyatakan akan ikut campur dalam pemilihan presiden demi mengamankan sekularisme. Langkah militer, menurut Gul, seperti dikutip surat kabar Miliyet, membuat para pemilih marah.

"Intervensi dalam proses pemilihan presiden membuat rakyat sangat marah," kata Gul.

Sejak tahun 1960, angkatan bersenjata Turki, yang selalu berada di urutan teratas jajak pendapat sebagai lembaga paling terpercaya di Turki, telah menggulingkan empat pemerintahan melalui kudeta.

Isu Kurdi

Selain isu pemilihan presiden, pemerintahan baru menghadapi tantangan terkait pemberontak Kurdi di wilayah utara Irak. Pasukan Turki telah memerangi pemberontak Kurdi sejak 1984, yang telah menewaskan lebih dari 30.000 jiwa.

Pemerintahan yang baru akan memutuskan apakah Turki akan mengirim pasukan ke wilayah utara Irak untuk menghancurkan basis pemberontak Kurdi. Langkah itu ditentang Amerika Serikat, tetapi Turki telanjur tertekan akibat meningkatnya kekerasan di wilayah tersebut.

Dalam pemungutan suara, Minggu, sedikitnya 17 orang dilaporkan luka-luka akibat bentrokan antarpendukung partai. Kantor berita Anatolia melaporkan, dua orang cedera akibat bentrokan yang terjadi antara pendukung MHP dan AKP di Demre, kawasan wisata di selatan Turki.

Tiga orang dilaporkan luka-luka di Provinsi Diyarbakir, Turki bagian selatan. Di Desa Buyukakoren, enam orang luka-luka setelah para pendukung partai berkelahi karena seorang pria membantu istrinya yang buta huruf untuk memilih di bilik suara.

Enam orang juga dilaporkan cedera di Sason, Provinsi Batman, setelah diskusi politik berubah menjadi perkelahian. (ap/afp/reuters/fro)

No comments: