Wednesday, July 4, 2007

Venezuela Jual Bensin ke Iran
Stasiun Pengisian BBM Kembali Diserang karena Penjatahan

TEHERAN, Selasa - Venezuela setuju menjual bensin ke Iran untuk membantu negara Teluk itu mencukupi kebutuhan bensin di dalam negeri. Namun, tidak dijelaskan harga dan volume pembelian bensin itu.

"Ya, Iran telah meminta untuk membeli bensin (dari kami) dan kami menerima permintaan itu," kata Menteri Energi Venezuela Rafael Ramirez dalam wawancara dengan surat kabar Sharq, yang dipublikasikan Selasa (3/7).

Meski demikian, Ramirez menolak memberikan informasi lebih rinci mengenai volume bensin yang akan dibeli Iran itu dan juga soal harganya.

Kesepakatan jual beli bensin antara Iran dan Venezuela itu merupakan salah satu hasil kunjungan Presiden Venezuela Hugo Chavez ke Iran, Minggu dan Senin lalu.

Meski memiliki cadangan minyak yang sangat besar, Iran selama ini mengimpor 40 persen kebutuhan bensinnya karena kurangnya kapasitas pengilangan minyak di negara itu.

Dalam upaya mengurangi pengeluaran untuk impor bensin di tengah semakin meningkatnya tekanan Barat atas aktivitas nuklir negara itu, mulai 27 Juni, Pemerintah Iran memberlakukan penjatahan penggunaan BBM untuk warganya. Melalui upaya itu, Iran berharap bisa mengurangi konsumsi bensin di negeri yang justru kaya minyak itu, yang konsumsi setiap harinya mencapai 75 juta liter.

Pemberlakuan pembatasan bensin itu ditentang warga, bahkan beberapa orang melakukan aksi perusakan terhadap sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU).

Kantor berita Fars, Selasa, menyebutkan, sepekan setelah pemberlakuan kebijakan pembatasan itu, puluhan SPBU dibakar sebagai bentuk protes.

Kemarin, sebuah mortir ditembakkan ke sebuah SPBU di Teheran, tetapi mortir itu tidak sampai meledak. Fars menyebutkan, mortir itu ditembakkan Senin malam ke sebuah SPBU di timur Teheran.

"Peluru mortir ini yang ditembakkan dari sebuah tempat yang tidak diketahui, tetapi gagal meledak setelah mengenai stasiun bahan bakar," kata Fars. Ahli-ahli penjinak bom langsung diturunkan ke lokasi untuk melumpuhkan mortir itu.

Bensin murah

Para pedagang internasional mengapalkan sekitar 210.000 barrel bensin per hari atau 25 kargo bahan bakar per bulan ke Iran. Impor sebagian besar berasal dari India, Belanda, Perancis, dan Uni Emirat Arab.

Bensin impor itu dijual Pemerintah Iran dengan harga sangat murah kepada rakyat sehingga setiap tahun pemerintah harus menyubsidi sekitar 10 miliar dollar AS.

Naiknya harga minyak mentah dunia bulan lalu menyebabkan pengeluaran Pemerintah Iran untuk menyubsidi bensin pun semakin besar sehingga dilakukan kenaikan harga bensin sebesar 25 persen menjadi 38 sen dollar AS per galon (3,78 liter).

Pemerintah Iran menyatakan, kebijakan rasionalisasi bensin dilakukan agar dana untuk subsidi bensin itu bisa digunakan untuk proyek-proyek pembangunan dan menjadikan negara itu lebih "tak terkalahkan".

Dalam kunjungannya ke Iran, kantor berita IRNA melaporkan kemarin, Presiden Venezuela Hugo Chavez bersama Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sempat melakukan peletakan batu pertama, Senin, pada proyek bersama pembangunan kompleks petrokimia.

Kompleks itu berlokasi di Assaluyeh, sekitar 1.300 kilometer dari Teheran, yang direncanakan akan memproduksi lebih dari 1,6 juta ton metanol.

"Bangsa Iran dan Venezuela mengembangkan negara mereka dan berusaha membentuk sebuah dunia baru bagi mereka dan negara-negara bebas lainnya," ungkap Ahmadinejad pada upacara peresmian pembangunan pabrik petrokimia itu.

Chavez menimpali dengan mengatakan, "Kita ingin bersatu dan menciptakan sebuah dunia yang multipolar."

Kepemilikan atas kompleks itu dibagi hampir rata, yaitu 51 persen untuk Iran dan 49 persen untuk Venezuela. Kedua negara juga akan mulai segera membangun kompleks kedua di Venezuela dengan biaya total untuk kedua proyek itu mencapai 1,4 miliar dollar AS.

Sebelumnya, kedua Presiden itu meresmikan kompleks petrokimia yang sepenuhnya dimiliki Iran di kawasan yang sama. Pabrik petrokimia itu mempunyai kapasitas memproduksi 4,5 juta ton produk petrokimia.

IRNA menyebutkan, sejak tahun 2001 kedua negara telah menandatangani lebih dari 181 perjanjian dagang, dengan nilai potensial lebih dari 20 miliar dollar AS. (AP/Reuters/OKI)

No comments: