Wednesday, March 12, 2008

Mahathir Tuding Badawi


Kelompok Etnis China dan India Beralih dari Barisan Nasional

Oleh Fransisca Romana Ninik

Kuala Lumpur, Kompas - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad marah atas kekalahan besar yang dialami Barisan Nasional yang berkuasa pada pemilu hari Sabtu. Mahathir, Minggu (9/3), menuding penggantinya, PM Abdullah Ahmad Badawi, telah ”menghancurkan” koalisi Barisan Nasional.

”Menurut saya, dia (Badawi) sudah menghancurkan UMNO (Organisasi Nasional Melayu Bersatu), menghancurkan Barisan Nasional (BN), dan dia harus bertanggung jawab atas semua ini,” ujar Mahathir kepada wartawan. Mahathir selama 22 tahun memimpin BN hingga dia mundur tahun 2003 dan digantikan Badawi.

Mahathir mengusulkan Badawi untuk mundur dan mengakui sudah keliru memilih Badawi sebagai penggantinya. Badawi kepada wartawan menolak mundur sekalipun BN mengalami kekalahan paling buruk dalam pemilu sejak tahun 1969. ”Dia harus memikul tanggung jawab ini. Dia harus pikul tanggung jawab 100 persen,” kata Mahathir.

Beralih dari BN

Kandidat doktor pada Universiti Kebangsaan Malaysia, Wawan Syakir, kepada Kompas mengatakan, hasil pemilu kali ini menjadi pemicu bagi BN untuk bangkit kembali. ”Ketika BN kalah pada pemilu tahun 1999, mereka cepat bangkit lagi dan bisa menang pada pemilu 2004. Bagaimanapun masyarakat lebih memilih stabilitas,” katanya.

Yang menarik, kata Wawan, BN kalah di daerah-daerah yang memiliki perekonomian maju, seperti di Penang, Selangor, dan Persekutuan. Hal itu banyak dipengaruhi oleh faktor etnisitas.

Di daerah-daerah itu, kelompok etnis China yang semula memilih Asosiasi China Malaysia (MCA), dan kelompok etnis India yang sebelumnya mendukung Kongres India Malaysia (MIC), beralih ke PKR atau Partai Aksi Demokratik (DAP) yang didominasi etnis China. MCA dan MIC adalah anggota koalisi BN.

Di level regional dan internasional, Wawan mengatakan, hasil pemilu ini merupakan terobosan bagus bagi citra demokrasi Malaysia. Dengan menguatnya oposisi, Malaysia dikatakan telah melaksanakan proses demokrasi yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. (AFP/PPG)

No comments: