Wednesday, March 12, 2008

Oposisi Mulai Unjuk Gigi




Kebijakan Ekonomi Pro-Melayu Sudah Usang


EPA / Kompas Images
Koalisi oposisi Malaysia yang dipimpin Sekretaris Jenderal Partai Aksi Demokrasi (DAP), Lim Guan Eng (ketiga dari kiri), mengangkat tangan mereka di Georgetown, Penang, setelah berhasil mengontrol kekuasaan di negara bagian Penang, Sabtu (8/3). Koalisi pemerintahan Barisan Nasional masih menang secara nasional, tetapi kehilangan kekuasaan di lima negara bagian, yang kini dikuasai pihak oposisi.
Rabu, 12 Maret 2008 | 00:40 WIB

Penang, Selasa - Oposisi Malaysia yang meraih hasil gemilang pada pemilu 8 Maret mulai unjuk gigi. Partai Aksi Demokratik (DAP) yang menang pemilu di Pulau Pinang (Penang), Selasa (11/3), mulai mengambil kendali pemerintahan dan bertekad segera menghapus Kebijakan Ekonomi Baru (NEP) yang pro-Melayu.

”Kami akan menjalankan pemerintahan yang bebas dari Kebijakan NEP yang menimbulkan kronimisme, korupsi, dan inefisiensi yang sistemik,” ujar Lim Guan Eng, yang dilantik menjadi Menteri Besar Penang, Selasa. Lim dari DAP berhasil menyingkirkan Tan Sri Koh Tsu Kon dari Partai Gerakan yang merupakan bagian dari koalisi Barisan Nasional (BN).

DAP kini menguasai 19 kursi dari 40 kursi parlemen Penang. BN hanya menguasai 11 kursi, sementara Partai Keadilan Rakyat (PKR) dimotori mantan Wakil PM Anwar Ibrahim menguasai sembilan kursi, dan satu kursi dikuasai Partai Islam Se-Malaysia (PAS). Sebelumnya, koalisi BN menguasai 38 kursi di parlemen Penang.

NEP yang sudah berlangsung empat dekade bertujuan mengurangi kemiskinan dengan redistribusi kemakmuran, terutama kepada etnis Melayu. Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) yang menguasai BN selama ini memberikan etnis Melayu hak lebih dalam proyek pemerintah, peluang pekerjaan, kuliah, dan kredit perbankan.

Pemimpin de facto oposisi, Anwar Ibrahim, di Kuala Lumpur, menegaskan bahwa pemerintahan oposisi di lima negara bagian dikuasai akan meninjau kembali semua kontrak proyek pemerintahan yang ada, yang tidak transparan. ”Kami melihat NEP sebagai suatu yang usang,” ujarnya kepada wartawan.

Pemilu parlemen memberikan kemenangan bagi partai oposisi di lima negara bagian, yaitu Pahang, Selangor, Kedah, Kelantan, dan Perak. Kelantan selama 18 tahun ini dikuasai PAS. Ada 13 negara bagian dan tiga wilayah federal. Oposisi kini menguasai 82 dari 22 kursi di parlemen.

Ucapan selamat

Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla memberikan ucapan selamat kepada Pemerintah Malaysia yang dinilai sukses menyelenggarakan pemilu dengan lancar meskipun terjadinya dinamika demokrasi di mana Barisan Nasional tidak lagi mayoritas mutlak menguasai kursi di parlemen.

”Kita beri ucapan selamat kepada Pemerintah Malaysia yang tetap menang. Memang tidak 100 persen, tetapi itu demokratis. Pemilu juga lancar meskipun ada dinamika. Itu wajar saja,” tandas Wapres Kalla kepada wartawan di Denpasar, Bali, Selasa.

Menurut Wapres Kalla, setidaknya ada dua masalah yang menyebabkan tidak mutlaknya kemenangan Barisan Nasional. ”Beralihnya sebagian etnis China dan India mendukung Barisan Nasional dan adanya dampak global atas kenaikan harga minyak mentah serta komoditas lainnya, yang meskipun masih bisa dikelola, tetapi berpengaruh pada perekonomian global, termasuk Malaysia,” ujar Wapres Kalla.

Wapres Kalla menambahkan, itulah demokrasi yang berjalan di Malaysia dengan berbagai dinamikanya. ”Demokrasi itu akibat keterbukaan informasi. Itulah yang membuka keterbukaan demokrasi di sana. Jadi, dinamika demokrasi seperti itu wajar,” ujar Wapres Kalla. (Reuters/AFP/ppg/har)

No comments: