Wednesday, February 20, 2008

Dulmatin Diduga Tewas



WNI Bernama Mohamad Baehaqi Ditangkap di Filipina



Dulmatin
Rabu, 20 Februari 2008 | 02:00 WIB

ZAMBOANGA, Selasa - Dulmatin, salah satu pelaku ledakan bom di sebuah diskotek di Kuta, Bali, pada Oktober 2002, diduga telah tewas. Ia tewas akibat luka-luka dalam serangan militer Filipina, 31 Januari 2008. Aparat Filipina telah mengambil jenazah Dulmatin dari pemakaman di hutan Pulau Tawi-tawi, Selasa (19/2).

Berita kematian Dulmatin tersebut dicermati secara hati-hati. Masalahnya, sudah empat kali militer Filipina mengatakan bahwa Dulmatin tewas.

Dulmatin menjadi buronan dalam lima tahun terakhir. Pemerintah Amerika Serikat menawarkan 10 juta dollar AS kepada siapa saja yang berhasil menangkap Dulmatin hidup atau mati. Dulmatin (Ammar Usman) berperan sebagai perakit bom, yang diledakkan di Kuta.

Komandan Marinir Filipina Mayor Jenderal Benjamin Dolorfino mengatakan, jenazah Dulmatin diambil dari sebuah makam yang dangkal. Aparat mengetahui lokasi pemakaman Dulmatin berdasarkan pengakuan seorang rekan Dulmatin, yang telah ditangkap aparat Filipina, Minggu (17/2).

Menurut Marinir Mayor Jenderal Juancho Sabban, Dulmatin dimakamkan terburu-buru di hutan untuk menghindari pelacakan aparat Filipina.

Dalam gambar-gambar yang disiarkan kantor berita, terlihat aparat Filipina menggotong satu jenazah yang sudah dibalut dengan kain kafan.

”Sekarang kami sedang melakukan tes DNA untuk mengonfirmasikan bahwa itu adalah jenazah Dulmatin,” kata Dolorfino.

Tes asam deoksiribonukleat (DNA) itu dilakukan oleh Biro Investigasi Federal AS (FBI) dan para ahli dari laboratorium Filipina. Tim FBI dan ahli lab Filipina itu sudah tiba di sebuah lokasi di Filipina selatan.

Cocok

Juru bicara Kedutaan Besar AS di Manila, Rebecca Thompson, mengatakan, otoritas AS sedang membantu uji DNA pada jenazah. DNA Dulmatin akan dicocokkan dengan sampel DNA anak Dulmatin, yang sudah diambil tahun lalu. Kantor berita Associated Press (AP) mengatakan telah melihat tissue (jaringan) DNA Dulmatin dan anak Dulmatin cocok.

Akan tetapi, aparat Filipina mengatakan, dibutuhkan waktu setidaknya sepekan untuk mengeluarkan kesimpulan.

Dulmatin tewas dalam pertempuran yang terjadi antara aparat Filipina dan jaringan teroris di Filipina selatan pada 31 Januari. Saat pertempuran itu, badan Dulmatin terkena tembakan di bagian kepala, dada dan kaki kanan.

Pada jenazah yang diambil dari Pulau Tawi-tawi itu, juga ada luka dengan posisi yang persis sama. Baju yang dipakai Dulmatin saat pertempuran pada 31 Januari itu juga sama dengan baju yang ditemukan di makam.

Namun, jubir Kepolisian Negara RI Anton Bahrul Alam, mengatakan, perwakilan Kepolisian Negara RI di Filipina sudah melakukan pemeriksaan. Setelah itu disimpulkan bahwa jenazah tersebut bukan Dulmatin, tetapi seorang warga lokal.

Di sisi lain, militer Filipina juga mengatakan, Mohamad Baehaqi (26) telah ditangkap bersama dua rekannya warga Filipina. Penangkapan berlangsung hari Minggu lalu di Desa Piso di Pulau Mindanao selatan.

Panglima Militer Filipina Jenderal Hermogenes Esperon mengatakan, Baehaqi memasuki wilayah Filipina pada September 2003. Ia berperan sebagai penerima perintah serangan dari Dulmatin.

Bersama Baehaqi juga ditangkap Cabiza Generoso dan putranya, Mohar Abais Generoso (30). Kedua warga Filipina ini dikatakan berperan sebagai kontak lokal bagi kelompok Jemaah Islamiyah. Di Filipina selatan, orang-orang dari kelompok Jemaah Islamiyah mendapatkan perlindungan dari kelompok Abu Sayyaf. (REUTERS/AP/AFP/MON/sf)

No comments: